Pertamina juga mendukung pengumpulan sampah dengan menyediakan sepeda motor listrik. Kendaraan tersebut mendapat pasokan energi dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp yang terpasang di Balai Desa Kuta, serta rumah baterai berkapasitas 20 kWh yang berfungsi sebagai sumber pengisian daya.

Program tersebut menjadi bagian dari Desa Energi Berdikari Pertamina yang menggabungkan edukasi mengenai potensi energi, pemanfaatan energi, hingga pengembangan aktivitas ekonomi masyarakat berbasis energi bersih.

Arya berharap berbagai program tersebut dapat membuat manfaat Pertamina Grand Prix Of Indonesia terus berlanjut. Sebab, wisatawan tidak hanya datang ketika event berlangsung, tetapi juga berkunjung ke Mandalika sepanjang tahun.

"Event tahunan ini tidak setiap hari, tapi turis yang datang ke sini kan setiap hari. Artinya mereka juga bisa mengelola itu menjadi hal yang menarik. Nah, ini yang tentunya kita latih dan kita edukasi sekarang," tuturnya.

Salah satu pemilik homestay, Bani, mengatakan peningkatan permintaan kamar mulai terasa dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut terjadi di tengah tren pariwisata yang biasanya mulai menurun pada Oktober.

Menurutnya, kehadiran Pertamina Grand Prix Of Indonesia membuat tingkat hunian homestay di Kuta dan sekitarnya justru meningkat signifikan.

"Dengan adanya Pertamina Grand Prix Of Indonesia ini karena demand yang begitu banyak, jadi kita menaikkan sedikit harga dari harga pada umumnya. Dalam satu minggu terakhir ini peningkatan jumlah okupansi pada homestay sangat tinggi untuk seluruh wilayah Kuta dan sekitarnya," ujar Bani.

Pada kondisi normal, ia mengatakan tarif kamar di homestay miliknya berkisar Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu per malam, tergantung musim. Namun, tingginya permintaan selama periode MotoGP membuat tarif mengalami penyesuaian.