Bani pun mengapresiasi program tersebut karena memberikan tambahan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengelola homestay secara lebih profesional. Terlebih, sebagian pengelola homestay tidak memiliki latar belakang pendidikan pariwisata.

"Dengan adanya program ini, kami sebagai owner memiliki keahlian yang tersertifikasi dan juga bisa meningkatkan mutu dari homestay kami, baik pelayanan maupun tata kelola homestay yang lebih profesional," katanya.

Bagi pelaku homestay lainnya, dampak ekonomi yang dirasakan bahkan lebih besar. Perwakilan Mango Room Mandalika, Reddy Mardani atau Dani, mengatakan harga kamar yang biasanya dipatok sekitar Rp600 ribu per malam meningkat hingga Rp2 juta selama gelaran Pertamina Grand Prix Of Indonesia. Seluruh kamar yang ditawarkan dengan harga tersebut pun laku terjual.

"Walaupun event-nya hanya tiga hari, kami bisa menjualnya mungkin tiga kali lipat. Kami menjual dengan harga Rp2 juta per malam dan itu laku semua," kata Dani.

Menurut Dani, peningkatan kunjungan wisatawan tidak hanya memberikan keuntungan bagi pemilik akomodasi. Para pekerja lokal, pelaku kuliner, UMKM, hingga masyarakat yang menyediakan berbagai jasa ikut merasakan perputaran ekonomi dari event olahraga internasional tersebut.

Ia menyebut sejak Pertamina Grand Prix Of Indonesia digelar di Mandalika pada 2021, jumlah wisatawan yang datang ke kawasan Kuta meningkat setiap tahunnya, terutama wisatawan mancanegara. Kondisi tersebut membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal.

"Semua pekerja kami pekerja lokal. Dengan adanya banyak akomodasi yang tercipta di Kuta Mandalika ini, kami berterima kasih karena sudah menyediakan wadah untuk kami bekerja. Semoga gelaran balapan ini bisa terus ada setiap tahunnya agar kita juga mendapat dampak ekonomi yang baik," tutupnya.