John menjelaskan, Bioethanol Development Center di Lampung dikembangkan sebagai fasilitas pilot dengan kapasitas produksi bioetanol hingga 60 kiloliter per tahun. Fasilitas ini akan digunakan untuk menguji berbagai kombinasi bahan baku dan teknologi, mulai dari pre-treatment, hidrolisis, fermentasi, distilasi, hingga dehidrasi, termasuk tahapan pre-treatment untuk pengolahan bahan baku 2G.
"Pertamina NRE sangat berkomitmen dalam mendukung program Presiden dan cita-cita besar untuk mencapai produksi 1 juta kiloliter bioetanol per tahun dengan sistem multi-generation,"kata John Anis.
Momentum peluncuran juga ditandai dengan penandatanganan dua nota kesepahaman. Pertama, Kesepakatan Bersama tim redaksi Pertamina NRE dan Pemerintah Provinsi Lampung untuk pengembangan agribisnis, ketahanan energi, dan pangan di Provinsi Lampung.
Kedua, Nota Kesepahaman tim redaksi Pertamina NRE dan Toyota Group untuk menjajaki potensi teknis dan komersial produksi serta pemanfaatan bioetanol berkelanjutan di Indonesia, termasuk melalui kajian kelayakan, pengembangan dan pemanfaatan teknologi, serta pertukaran pengetahuan dan pengalaman.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Todotua Pasaribu menyampaikan bahwa pengembangan bioetanol dapat membentuk ekosistem yang mempertemukan pertanian, industri, teknologi, investasi, dan masyarakat dalam satu rantai ekonomi berbasis energi terbarukan.