"Ada sequential blending, jadi tim redaksi tangki solar, tanki FAME, di blending di tangki untuk menghasilkan produk biosolar B50. Ada inline blending, jadi disalurkan dari tangki solar ke tanki FAME, kemudian bertemu pada satu pipa, di situ ada mixing yang akan memastikan dia teremulsi dengan baik, sehingga menghasilkan produk B50," jelas Hari dalam keterangan tertulis, Jumat (28/8/2026).

Setelah proses blending, infrastruktur New Gantry System yang mampu memproses pengisian atau pemuatan B50 ke kendaraan/tangki juga telah tersedia di 11 lokasi di seluruh Indonesia. Kesiapan infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya Pertamina untuk mendukung proses distribusi B50 dari terminal hingga ke masyarakat.

Sementara itu, realisasi distribusi B50 1 Juli sampai 20 Agustus 2026 rata-rata mencapai sekitar 73 ribu kiloliter per hari. Implementasi B50 ini hingga 19 Agustus 2026 telah mencakup 120 terminal BBM di seluruh Indonesia.

Pertamina pun terus memonitor pola suplai dan distribusi B50 ini. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau.

"Untuk proses suplai dari satu terminal ke terminal yang lain, dari satu titik ke titik yang lain, ini membutuhkan tingkat perencanaan dan realisasi yang harus tepat dan akurat agar masyarakat bisa memperoleh tepat waktu untuk kebutuhan bahan bakarnya," imbuh Hari.

Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan 40 titik serah FAME dengan safe capacity storage terminal eksisting sebesar 271.691 KL. Pertamina pun terus melakukan peningkatan kapasitas storage, penerimaan FAME, serta kesiapan armada kapal dan mobil tangki untuk memastikan distribusi B50 berjalan optimal.

Dengan komposisi 50% FAME dan 50% Solar, secara ekuivalen terdapat sekitar 36,7 ribu kiloliter FAME dan 36,7 ribu kiloliter Solar yang dibutuhkan setiap harinya.