"Kami koordinasi intens, baik itu dengan pemerintah khususnya dirjen Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) dan BUBBN," imbuhnya.

Sementara itu, pemerintah menempatkan Program Mandatori Biodiesel B50 sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Program ini diharapkan mampu memberi sejumlah manfaat, mulai dari penghentian impor produk solar, penghematan devisa, peningkatan serapan CPO, penciptaan lapangan kerja, hingga penurunan emisi gas rumah kaca.

Hari optimistis program B50 menjadi penting untuk ketahanan energi Indonesia, khususnya dalam memenuhi kebutuhan solar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.

"B50 jauh lebih bermanfaat untuk negara kita dalam memastikan kita bisa mencukupi produk gas oil kita, khususnya solar secara mandiri. Jadi dengan kita implementasi ini, sampai hari ini kita masih terus menjaga, kita tidak melakukan impor produk solar," imbuh Hari.

Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Hamdan Hamedan, mengatakan implementasi B50 merupakan bagian dari perjalanan panjang pengembangan biodiesel di Indonesia selama 18 tahun.

Menurutnya, ketahanan energi merupakan bagian dari semangat Prabowo dalam memperkuat ketahanan nasional. Pendekatan tersebut dilakukan melalui sejumlah langkah, mulai dari meningkatkan produksi energi, memperkuat kapasitas kilang, memperluas penggunaan bahan bakar nabati seperti B50, hingga mempercepat pengembangan energi terbarukan.

"B50 adalah sebuah perjalanan panjang selama 18 tahun sampai ke titik ini, dan bagaimana Pertamina mengakselerasi ini adalah bentuk keberanian dalam mengambil keputusan yang menentukan bahwa Indonesia bisa mandiri energi," tutup Hamdan.