"Tidak ada konspirasi, hanya ada penilaian yang profesional dan merata kriterianya bagi semua," jelasnya.
Persoalan MSCI tidak seharusnya dipandang sebagai ajang adu kekuatan atau nasionalisme. Menurutnya, persoalan di dunia keuangan berbeda dengan pertarungan militer sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih strategis.
MSCI bukanlah lawan yang harus dikalahkan, melainkan lembaga yang menetapkan standar dan perlu didengar serta disikapi secara tepat. Menurutnya, sikap konfrontatif terhadap MSCI justru berisiko merusak kepercayaan investor global.
Dino mengatakan, China juga sempat ditolak MSCI selama tiga tahun berturut-turut dalam upayanya memasukkan saham domestiknya ke kategori pasar emerging market. Namun, China merespons keputusan tersebut dengan terbuka dan menyesuaikan diri terhadap standar MSCI.
"Tiongkok merespons dengan terbuka, menyesuaikan dengan standar MSCI tanpa memaki-maki atau defensive. Dan kemudian mereka berhasil masuk di tahun 2018, naik kelas. Begitu juga dengan Yunani yang kastanya sempat diturunkan di tahun 2013 dan sekarang dinyatakan akan naik kelas lagi," terangnya.
Dino menilai Indonesia akan kesulitan menentang kredibilitas MSCI. Pasalnya, investor global memiliki aturan internal yang membatasi investasi pada pasar berstatus standalone.