Pembangunan fasilitas geotermal tersebut membutuhkan alokasi modal yang sangat besar. Kebutuhan investasi diestimasikan berkisar antara 5 hingga 6 juta dolar AS per megawatt, yang sangat bergantung pada kompleksitas infrastruktur dan akses lokasi.
Guna menutupi kebutuhan modal tersebut, PGE menggunakan ekuitas internal serta menyerap sebagian dana dari penawaran umum perdana saham (IPO). Perusahaan juga dibantu oleh pemerintah untuk memperoleh pendanaan dari luar negeri dengan suku bunga rendah. Selain itu, pembiayaan hijau menjadi instrumen andalan untuk menekan biaya modal.
"Kemudian juga green energy itu juga salah satu yang bisa kami dapatkan green financing, green bond yang lebih rendah dari luar sehingga itu juga membuat keekonomian geotermal bisa fly," ujar Andi.
Menyadari besarnya skala proyek geotermal yang tidak mungkin dikerjakan sendirian, PGE turut membentuk usaha patungan (joint venture) dengan PT PLN (Persero). Langkah kolaborasi ini bertujuan untuk saling berbagi risiko dan belanja modal demi mendapatkan manfaat bersama, seperti rencana penambahan pembangkit 30 MW di Ulubelu.