NADIKABAR.COM — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menyiapkan strategi pendanaan masif untuk memitigasi tingginya risiko eksplorasi hulu demi mencapai target kapasitas terpasang panas bumi sebesar 1,8 gigawatt pada tahun 2034.
Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa, menjelaskan perlunya menyeimbangkan beban operasional perusahaan.
"Karena dari sisi hulu yang risikonya tinggi, kemudian di-balance dengan risiko hilir yang relatif rendah," kata Andi menjelaskan alasan Pertamina menjual produk listrik yang dihasilkan dari PLTP Kamojang.
Saat ini, kapasitas pembangkitan PGE baru mencapai 727 megawatt (MW). Untuk memaksimalkan potensi panas bumi perseroan, PGE menargetkan kapasitas terpasang sebesar 1 gigawatt (GW) pada tahun 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada tahun 2034.
Pembangunan fasilitas geotermal tersebut membutuhkan alokasi modal yang sangat besar. Kebutuhan investasi diestimasikan berkisar antara 5 hingga 6 juta dolar AS per megawatt, yang sangat bergantung pada kompleksitas infrastruktur dan akses lokasi.
Guna menutupi kebutuhan modal tersebut, PGE menggunakan ekuitas internal serta menyerap sebagian dana dari penawaran umum perdana saham (IPO). Perusahaan juga dibantu oleh pemerintah untuk memperoleh pendanaan dari luar negeri dengan suku bunga rendah. Selain itu, pembiayaan hijau menjadi instrumen andalan untuk menekan biaya modal.
"Kemudian juga green energy itu juga salah satu yang bisa kami dapatkan green financing, green bond yang lebih rendah dari luar sehingga itu juga membuat keekonomian geotermal bisa fly," ujar Andi.
Menyadari besarnya skala proyek geotermal yang tidak mungkin dikerjakan sendirian, PGE turut membentuk usaha patungan (joint venture) dengan PT PLN (Persero). Langkah kolaborasi ini bertujuan untuk saling berbagi risiko dan belanja modal demi mendapatkan manfaat bersama, seperti rencana penambahan pembangkit 30 MW di Ulubelu.
Sementara itu, Staf Khusus Wakil Presiden RI Bidang Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pembangunan Sosial Tina Talisa menekankan bahwa transisi energi ini merupakan upaya yang panjang. Ia menyoroti bahwa kapasitas geotermal Indonesia saat ini bahkan belum menyentuh angka 3 GW secara nasional.
Ekspansi PGE dinilai sangat krusial agar Indonesia terus memacu pengembangan energi baru terbarukan.
"Tapi tentu kita tidak boleh berpuas diri karena itulah dengan semangat PGE 1 gigawatt kita sangat mendorong untuk 1,8 gigawatt," tuturnya.
Melalui kelancaran skema investasi terintegrasi tersebut, Indonesia menargetkan mampu menyalip Amerika Serikat. Pemerintah membidik posisi nomor satu dunia dalam sektor energi panas bumi pada tahun 2030 mendatang.