Dari sisi biaya, penggunaan BBG diproyeksikan memberikan penghematan bagi penerima bantuan. Dengan asumsi 75 kendaraan mengonsumsi rata-rata 8 liter setara bensin (LSP) BBG per hari setiap bulan, total pemanfaatan BBG diperkirakan mencapai sekitar 15.000 LSP per bulan atau 180.000 LSP dalam setahun.
Dengan harga BBG nonsubsidi Rp4.500 per liter, kebutuhan bahan bakar tersebut diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp810 juta per tahun. Jika menggunakan BBM subsidi dengan asumsi harga Rp10.000 per liter, biaya bahan bakar untuk volume yang sama mencapai sekitar Rp1,8 miliar per tahun.
Artinya, penggunaan BBG berpotensi menghemat biaya bahan bakar sekitar Rp990 juta per tahun untuk 75 penerima manfaat.
Selain biaya, penggunaan BBG juga diproyeksikan menurunkan emisi karbon dioksida (CO₂). Dengan penggunaan energi yang setara, BBG disebut menghasilkan emisi CO₂ sekitar 19% lebih rendah dibandingkan bensin subsidi.
Berdasarkan proyeksi penggunaan BBG sekitar 180.000 LSP per tahun oleh 75 penerima manfaat, program tersebut diperkirakan dapat mengurangi emisi hingga sekitar 73 ton CO₂ eq per tahun.
PT Gagas Energi Indonesia (Gagas) turut mendukung program melalui dukungan teknis dalam proses konversi dan layanan bagi pengguna kendaraan BBG.
Direktur Utama Gagas Santiaji Gunawan mengatakan pengembangan kendaraan BBG tidak hanya berkaitan dengan proses konversi, tetapi juga kesiapan layanan dan aspek keselamatan.