NADIKABAR.COM — Pihak PT Aditarina meluruskan pernyataan Kapolrestabes Makassar Kombes Arya Perdana yang menyebut tawuran di Jalan Ujung Bori dipicu upaya pemasangan papan bicara oleh organisasi kemasyarakatan (ormas). Pihak yang berupaya memasang papan bicara tersebut mengklaim sebagai penerima kuasa.

"Pertama mau meluruskan pernyataannya Kapolrestabes. Pada prinsipnya kami menghargai pernyataan Kapolres tentang itu, tapi harus dijelaskan kami penerima kuasa," ujar penerima kuasa dari PT Aditarina, Nasrul Manca kepada NadiKabar, Rabu (9/9/2026) malam.

Nasrul Manca mengatakan pemberian kuasa tersebut menjadi dasar bagi pihaknya berupaya melakukan papan bicara. Dia juga mengklaim pihaknya berupaya melakukan sosialisasi kepada warga.

"Rencananya mau masuk sosialisasi sekaligus pemasangan papan bicara, sosialisasi tentang kedudukan PT Aditarina yang kembali mau mengambil alih, memanfaatkan lahannya," ujar Nasrul Manca.

"Kan selama ini warga di dalam tahu bahwa PT Aditarina pemilik objek (lahan) yang mereka tinggali, sekarang PT Aditarina sudah mau memanfaatkan lahannya, cuma agak ribet, setengah mati masuk karena warga merasa sudah lama tinggal di situ," jelasnya.

Dia juga mengklaim lahan tersebut tidak berstatus sengketa. Menurutnya, lahan itu dibeli PT Aditarina sejak 1993.

"Mereka ada di situ mereka sewa dengan kesepakatan tertulis apabila PT Aditarina mau memanfaatkan kembali lahannya maka mereka keluar sukarela," ujarnya.

Sementara itu, Kombes Arya Perdana yang sempat turun tangan melerai bentrokan di Jalan Ujung Bori menyebut perang kelompok pecah saat ormas datang memasang papan bicara mengklaim kepemilikan lahan bersengketa hingga memicu penolakan warga setempat.

"Tadi ada ormas yang mau masuk ke dalam, mungkin membantu pemasangan papan bicara. Namun situasi tidak memungkinkan sehingga ada penolakan dari warga," ujar Kombes Arya Perdana kepada wartawan, Rabu (9/9).

Penolakan itu kemudian berujung tawuran dan jalanan sempat diblokade massa. Perang kelompok semakin memanas lantaran massa saling serang menggunakan batu hingga bom molotov.

"Ini jadi ada bentrokan. Kita jaga ketertiban, kami upayakan agar bisa masuk ke dalam jangan sampai ada bentrokan agar situasi kondusif," katanya.

"Jadi memang sempat ada pelemparan panah busur, batu dan sebagainya, bahkan ada kendaraan yang terbakar tadi. Sekarang situasi sudah kondusif," ungkap Arya.