Sementara itu, Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara Sigit Puji Santosa menjelaskan DWM dikembangkan untuk melengkapi, bukan menggantikan, pengelolaan sampah tersentralisasi melalui waste-to-energy (WTE).

Pendekatan terdesentralisasi dapat diterapkan pada wilayah yang belum memiliki skala ekonomi atau kondisi yang memadai untuk fasilitas WTE berskala besar.

"WTE adalah centralized untuk memanfaatkan energi. Sementara ini decentralized waste management. Jadi, ini tidak menggantikan WTE, tetapi complementary," kata Sigit.

Menurut Sigit, model desentralisasi dapat diterapkan pada wilayah yang tidak memiliki skala ekonomi atau kondisi yang memungkinkan untuk membangun fasilitas WTE berskala besar.

Dengan pengolahan yang lebih dekat dengan sumber sampah, kebutuhan pengangkutan sampah dalam jarak jauh juga dapat ditekan.

Sigit menargetkan setidaknya satu hingga dua lokasi DWM dapat mulai dikembangkan pada Desember 2026 atau Januari 2027, dengan Bandung menjadi salah satu lokasi prioritas.

Selanjutnya, pengembangan ditargetkan dapat diperluas hingga empat sampai lima lokasi.