NADIKABAR.COM — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mendukung program pengelolaan sampah terdesentralisasi sebagai upaya mengolah sampah lebih dekat dengan sumbernya sekaligus membuka peluang menjadi sumber energi dan produk bernilai tambah.
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, mengatakan program tersebut membuka peluang untuk memperluas sumber energi berbasis limbah sekaligus mendukung penyelesaian persoalan sampah melalui pendekatan ekonomi sirkular.
"Ketika sampah tidak lagi berhenti sebagai residu, tetapi masuk kembali ke dalam rantai nilai sebagai sumber daya dan energi, pengelolaan sampah dapat menjadi bagian dari solusi ketahanan energi sekaligus pembangunan lingkungan yang berkelanjutan," jelasnya.
Menurut dia, PLN EPI bersama PT Danantara Development Management Fund (DDMF), PT Rekayasa Industri (Rekind), PT Pertamina Power Indonesia (PNRE), dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung telah menandatangani Komitmen Bersama Pengembangan Decentralized Waste Management (DWM)
Penandatanganan yang disaksikan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) ini menjadi langkah awal pengembangan sistem pengelolaan sampah terdesentralisasi di Kota Bandung melalui koordinasi, penjajakan, pengkajian dan penilaian potensi DWM.
Dalam pengembangan tersebut, PLN EPI berperan sebagai calon pembeli atau penyerap produk hasil pengolahan DWM.
PLN EPI akan menyampaikan kebutuhan dan spesifikasi indikatif produk serta melakukan penelaahan awal terhadap aspek teknis, kualitas, kuantitas, kontinuitas, logistik dan potensi pemanfaatannya sebagai bagian dari rantai pasok energi primer.
Hokkop mengatakan DWM memiliki keterkaitan dengan upaya memperluas pemanfaatan sumber energi berbasis limbah.
PLN EPI selama ini telah mengembangkan rantai pasok biomassa untuk mendukung substitusi sebagian bahan bakar fosil pada pembangkit melalui program cofiring.
"Di PLN EPI, kita melakukan substitusi bahan-bahan fosil menjadi bahan-bahan berbasis hayati untuk kelangsungan energi kita melalui cofiring," kata Hokkop.
Hokkop menyebut PLN telah memanfaatkan sekitar 2,5 juta ton biomassa dalam satu tahun terakhir. Sekitar 99 persen biomassa tersebut berasal dari limbah agro.
Pengembangan ekosistem biomassa tersebut juga melibatkan pelaku usaha di berbagai daerah.
Saat ini, PLN EPI memiliki sekitar 180 kontrak aktif dalam rantai pasok biomassa, dengan sekitar 60 persen di antaranya melibatkan pelaku usaha muda.
Keterlibatan berbagai pelaku tersebut menjadi bagian dari pengembangan ekosistem energi berbasis sumber daya lokal.
Sementara itu, Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara Sigit Puji Santosa menjelaskan DWM dikembangkan untuk melengkapi, bukan menggantikan, pengelolaan sampah tersentralisasi melalui waste-to-energy (WTE).
Pendekatan terdesentralisasi dapat diterapkan pada wilayah yang belum memiliki skala ekonomi atau kondisi yang memadai untuk fasilitas WTE berskala besar.
"WTE adalah centralized untuk memanfaatkan energi. Sementara ini decentralized waste management. Jadi, ini tidak menggantikan WTE, tetapi complementary," kata Sigit.
Menurut Sigit, model desentralisasi dapat diterapkan pada wilayah yang tidak memiliki skala ekonomi atau kondisi yang memungkinkan untuk membangun fasilitas WTE berskala besar.
Dengan pengolahan yang lebih dekat dengan sumber sampah, kebutuhan pengangkutan sampah dalam jarak jauh juga dapat ditekan.
Sigit menargetkan setidaknya satu hingga dua lokasi DWM dapat mulai dikembangkan pada Desember 2026 atau Januari 2027, dengan Bandung menjadi salah satu lokasi prioritas.
Selanjutnya, pengembangan ditargetkan dapat diperluas hingga empat sampai lima lokasi.