"Karena eksplorasi itu terbagi menjadi dua tahapan. Eksplorasi tidak langsung dan eksplorasi langsung. Eksplorasi tidak langsung tentunya dengan studi literatur, kemudian permukaan. Nah, untuk membuktikan bahwa memang di dalam perut bumi ini ada potensi panas buminya, maka perlu dilakukan eksplorasi langsung. Salah satunya adalah dengan kegiatan pengeboran," tambahnya.
Dwi belum bisa merinci di mana nantinya titik-titik eksplorasi pengeboran panas bumi akan dilakukan. Hal itu akan terungkap saat fase sosialisasi hingga pengurusan izin lingkungan.
"Memang secara prinsip titik kami memang belum mengetahui. Nanti makanya pada saat nanti fase sosialisasi atau pengurusan KKPR-nya mungkin atau izin lingkungannya, nanti di situ akan disampaikan kira-kira rencananya itu di mana-mana saja gitu ya. Sementara kami masih belum mengetahui," terang Dwi.
"Dayanya sekarang yang direncanakan ya, direncanakan, dimungkinkan, diduga gitu ya, adalah 55 megawatt," kata Dwi.
Dwi membeberkan wilayah kerja panas bumi (WKP) di Gunung Ungaran mencapai 29 ribu 800 hektare yang terbagi di dua kabupaten. Namun, tidak semuanya akan digunakan.
"Sesuai dengan yang ada di dalam SK itu 29.800 hektar. Ada di dua kabupaten yaitu Semarang dan Kendal. Tetapi tadi saya sampaikan, tidak serta semuanya 29.800 hektar itu akan digunakan semuanya," ujar Dwi.
"Karena akan dipilah lagi lokasi-lokasi mana yang potensial terkait dengan keberadaan titik sumurnya dan infrastruktur pendukungnya," tambahnya.
Dwi juga membeberkan nantinya listrik yang dihasilkan akan mengaliri wilayah Jawa hingga Bali.
Dwi menyampaikan nilai investasi dalam proyek ini juga mencapai angka yang fantastis yakni ratusan juta dolar AS.