"Setiap perempuan prasejahtera di Indonesia berhak mendapatkan pembiayaan dan pemberdayaan dimanapun lokasi mereka. Itu lah yang terus PNM upayakan, sejauh mana perusahaan mampu menghadirkan harapan bagi masyarakat bahkan yang berada di wilayah paling sulit dijangkau," jelas Kindaris.

Di Baduy, harapan itu hadir dalam bentuk yang mungkin terlihat sederhana berupa modal untuk membeli hasil bumi, menjaga warung tetap berjalan, atau membuat usaha terus berputar.

Tetapi di balik angka tersebut ada keberanian untuk mencoba, kesempatan untuk bertumbuh, dan keyakinan bahwa akses terhadap pembiayaan tidak seharusnya ditentukan oleh seberapa jauh seseorang tinggal dari pusat kota.

Tiga pencairan pertama di tanah Baduy luar akhirnya menjadi lebih dari sekadar catatan penyaluran pembiayaan. Ia menjadi penanda bahwa ketika ada perempuan yang ingin mengembangkan usahanya, PNM bersedia menempuh jalan yang lebih jauh untuk menemuinya.

"Tidak ada wilayah yang terlalu jauh untuk dihadiri PNM memberikan pembiayaan dan pemberdayaan selama masih ada perempuan yang ingin usahanya tumbuh," tutup Kindaris.