"Tetapi pada saat bersamaan sektor perikanan tangkap cenderung stagnan atau bahkan menurun. Digantikan dengan tren perikanan budidaya yang terus. Bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Artinya, kalau 10-15 tahun lalu perikanan tangkap jadi kekuatan sumber protein hewani bagi seluruh bangsa di dunia hari ini telah tergantikan dengan perikanan budidaya," ujar Riza.

Tetapi, menurut Riza, laut masih menyimpan potensi besar dari budidaya rumput laut karena komoditas ini punya nilai tambah dari produk turunannya yang sangat banyak. Mulai dari tepung karagenan, biostimulan, hingga tepung agar-agar. Pengolahan rumput laut menjadi produk turunan berpotensi meningkatkan nilai tambah hingga 14 kali lipat.

"Indonesia adalah produsen dan eksportir rumput laut terbesar di dunia, tetapi 93,4% diekspor dalam bentuk nonolahan atau mentah. Sementara Cina, importir rumput laut asal Indonesia, mampu menjual 84,11% produk turunan komoditas tersebut dan mendapat keuntungan lebih besar dari Indonesia," tutup Riza.

Sebagai informasi, dalam acara tersebut hadir para anggota Badan Pengkajian MPR, yaitu Darmadi Durianto (PDI Perjuangan), Muhamad Nur Purnamasidi (Golkar), Lisda Hendrajoni (NasDem), Maman Imanul Haq (PKB), Andi Yuliani Paris (PAN), Endang Setyawati Thohari (Gerindra), Heri Gunawan (Gerindra), Ida Fauziyah (PKB), dan Guntur Sasono (Demokrat).

Sedangkan narasumber yang membahas tema FGD adalah Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM M. Riza Damanik, Peneliti Indef dan dosen Universitas Indonesia Berli Martawardaya, serta Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta Jauharuddin.