Selain perlindungan anak, diskusi tersebut juga menyoroti tantangan penggunaan AI generatif dalam proses pembelajaran.

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNJ Hadi Nasbey mengajak para pendidik untuk mengarahkan pemanfaatan teknologi agar tetap mendukung proses berpikir kritis dan menjaga integritas akademik.

Dia menilai AI seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu belajar, bukan jalan pintas yang menggantikan proses memahami, menganalisis, dan menghasilkan pemikiran secara mandiri.

"AI itu asisten, bukan pengganti proses berpikir manusia. Tantangan terbesarnya bukan sebatas pada kasus plagiasi instan, melainkan bagaimana kita mendidik anak agar jujur dalam prosesnya. Secanggih apa pun teknologinya, ia tidak akan pernah bisa menggantikan peran pendidik sebagai penjaga moral," pungkas Hadi.

Di sisi lain, Ketua Bidang Pedagogik PP IKA UNJ sekaligus moderator FDP Seri ke-3 Aan Harinurdin mengungkapkan penguatan karakter dan empati manusia merupakan kunci dalam menghadapi perkembangan teknologi yang berlangsung semakin cepat.

"Keteladanan moral hanya bisa ditularkan dari manusia ke manusia. Itulah tugas mulia pendidik untuk memanusiakan kurikulum kita di era digital," imbuh Aan.