Airlangga juga menepis anggapan bahwa data tersebut tidak mencerminkan kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Ia mengatakan data tersebut sudah disesuaikan dengan daya beli dan kemampuan berbelanja masyarakat Indonesia.

"Ini kan purchasing power parity, jadi disesuaikan dengan daya beli daripada masyarakat dan kemampuan untuk belanja," ujar Airlangga.

Saat berpidato di Rakornas Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (22/10), Prabowo menuturkan bahwa capaian tersebut membuktikan betapa kuatnya potensi ekonomi serta inovasi dari para pelaku usaha akar rumput di dalam negeri.

"Baru saja IMF keluarkan daftar urutan ekonomi terbesar dunia dari PPP, berarti kemampuan daya beli nyata banyak negara, Indonesia ditempatkan di urutan ke-7 dunia," ujar Prabowo.