NADIKABAR.COM β Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo berharap Jakarta bisa menjadi kota sinema seperti Busan yang merupakan kota sinema di Korea Selatan.
βDalam hal perfilman ini, saya betul-betul menaruh harapan kepada Pak Wagub dan tim untuk bisa berbuat sesuatu yang mudah-mudahan suatu hari kalau berbicara tentang Jakarta seperti orang berbicara tentang Busan, perfilman di Korea Selatan,β ujar Pramono saat membuka Jakarta Film Summit di Park Hyatt Hotel, Jakarta Pusat, Selasa.
Dia pun optimistis Jakarta akan mampu mewujudkan hal itu karena memiliki kelengkapan infrastruktur untuk menjadi kota sinema dibanding daerah lain.
Dikatakannya, berdasarkan Oxford Economics Global City di tahun 2026, Jakarta berhasil menduduki posisi 140 dari 1.000 kota dunia. Jakarta juga menduduki posisi ke-15 kota dengan Transportasi terbaik di dunia mengalahkan London.
Hal inilah yang membuat Pramono percaya Jakarta bisa menjadi kota sinema di tingkat nasional bahkan hingga tingkat ASEAN.
Dia berharap, Jakarta ke depannya bisa memperkuat ekosistem perfilman, sehingga mampu untuk menghadirkan talenta, investasi, fasilitas, produksi hingga jejaring internasional.
βYang paling penting adalah memproduksi film-film yang membawa manfaat dan kebanggaan bagi masyarakat Jakarta. Itulah yang paling utama dan terutama,β kata Pramono.
Adapun penyelenggaraan Jakarta Film Summit (JFS) x Jakarta Economic Forum (JEF) 2026 pada 20β21 Oktober 2026 merupakan kerja sama antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan mengatakan pihaknya berkomitmen memperkuat sinergi untuk mendorong pemanfaatan potensi perfilman dan merealisasikannya menjadi investasi, kesempatan kerja, dan peluang usaha bagi masyarakat.
Dukungan ini merupakan bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, di tengah komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas.
βPengembangan ekonomi kreatif semakin relevan seiring transformasi perekonomian Jakarta menuju sektor jasa, yang pangsanya meningkat dari 53,95 persen pada 2019 menjadi 55,87 persen pada 2025,β kata Iwan.
Ia menilai, perfilman juga memiliki rantai nilai yang luas, mulai dari penulisan skenario, produksi, dan pascaproduksi hingga distribusi. Aktivitas tersebut turut menggerakkan penyedia peralatan, kostum, katering, transportasi, akomodasi, serta UMKM lokal.
Agenda hari pertama JFS x JEF berfokus pada penguatan kebijakan dan kesiapan kota dalam mendukung industri perfilman.
Pembahasan mencakup pengembangan kota yang ramah produksi film, penyederhanaan perizinan, insentif produksi, pemanfaatan aset daerah sebagai lokasi dan fasilitas produksi, serta kerja sama industri perfilman di kawasan Asia.
Pertukaran pengalaman tersebut diharapkan menjadi masukan untuk meningkatkan daya tarik Jakarta bagi produksi domestik maupun internasional.
Selain itu, JEF membuka ruang partisipasi akademisi, generasi muda, dan pelaku usaha melalui showcasing karya pemenang Lomba Karya Tulis dan Lomba Artikel JEF 2026, pemutaran film pendek hasil kompetisi Jakarta Youth Film Festival (JYFF), mini talkshow ekosistem perfilman, showcase produk UMKM, serta booth layanan ekonomi kreatif dan edukasi kebanksentralan.