NADIKABAR.COM — Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) tidak lagi bermakna. Dia menuding setiap perundingan justru diikuti serangan terhadap Iran.
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian di tengah kebuntuan upaya mengakhiri perang di Timur Tengah. Dilansir AFP, Senin (5/10/2026), pernyataan Pezeshkian dikutip kantor berita pemerintah Iran, IRNA.
"Sejauh ini, mereka telah menyerang kami tiga kali setelah perundingan. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mencari dialog, melainkan tujuannya adalah menggulingkan Republik Islam Iran," kata Pezeshkian.
Dia menilai perundingan menjadi tidak berarti ketika Iran menghadapi apa yang disebutnya sebagai pembunuhan, sanksi, tekanan, hingga ancaman dari pihak AS.
"Dengan musuh yang setiap hari melakukan pembunuhan, sanksi, tekanan dan ancaman, serta melanggar komitmennya, negosiasi menjadi tidak bermakna," ujarnya.
Perang di Timur Tengah dimulai pada akhir Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan mendadak terhadap Iran. Serangan itu terjadi saat Washington dan Teheran tengah melakukan perundingan mengenai program nuklir Iran.
Kedua pihak sempat menyepakati memorandum of understanding (MoU) pada Juni yang memuat kerangka penyelesaian permanen konflik. Namun, situasi kembali memburuk setelah Iran melakukan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
AS kemudian kembali menjalankan operasi militer. Perundingan antara kedua negara praktis menemui jalan buntu sejak saat itu.
Pertemuan tidak langsung antara AS dan Iran di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini juga tidak menghasilkan terobosan.
Dalam beberapa pekan terakhir, Washington mengurangi operasi militernya dan lebih mengandalkan tekanan ekonomi. AS tercatat belum melancarkan serangan terhadap Iran sejak 1 September.