NADIKABAR.COM — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa perundingan damai hanya akan berhasil jika dilakukan tanpa "tekanan dan ancaman". Penegasan ini disampaikan saat negosiasi antara Teheran dan Amerika Serikat (AS), yang berperang selama tujuh bulan terakhir, mengalami kebuntuan.

Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang, seperti dilansir AFP, Sabtu (10/10/2026), menghadapi jalan buntu sejak musim panas. Teheran dan Washington telah menyepakati nota kesepahaman (MoU) pada Juni untuk menghentikan pertempuran dan membuka jalan bagi negosiasi demi mengakhiri perang secara permanen.

Namun MoU itu kolaps setelah kedua negara berselisih mengenai kendali atas Selat Hormuz, jalur perairan strategis untuk minyak dan gas global. Negosiasi tidak langsung yang digelar baru-baru ini, di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York, gagal menghasilkan terobosan.

"Dialog hanya memiliki makna dan peluang keberhasilan jika didasarkan pada rasa saling menghormati dan komitmen bersama, dan ketika bebas dari tekanan dan ancaman," cetus Pezeshkian saat berpidato dalam pertemuan puncak regional, Persemakmuran Negara-negara Merdeka (CIS), yang digelar di Turkmenistan pada Jumat (9/10).