Terlepas dari itu, proses perdamaian antara Palestina dan Israel telah terhenti selama bertahun-tahun, meskipun semakin banyak negara yang mengakui Negara Palestina beberapa waktu terakhir.
Di bawah pemerintahan Netanyahu, pembangunan permukiman dan kekerasan terhadap warga Palestina meningkat tajam di Tepi Barat, yang menjadi tempat Otoritas Palestina yang dipimpin Abbas menjalankan pemerintahan mandiri yang terbatas.
Para Menteri dalam koalisi pemerintahan Netanyahu, yang kini berhaluan sayap kanan garis keras, secara terang-terangan menyerukan pencaplokan Tepi Barat oleh Israel. Mereka juga mendorong kebijakan yang mendorong warga Palestina untuk meninggalkan Tepi Barat dan Jalur Gaza yang luluh lantak akibat perang.
Netanyahu memimpin Israel dalam perang yang menghancurkan sejak Oktober 2023, yang membuat sebagian besar wilayah Jalur Gaza kini menjadi puing-puing.