"Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada penanaman saja. Setelah kegiatan berjalan, masyarakat tetap punya rasa memiliki dan bersama-sama menjaga kawasan yang sudah disepakati, serta mendapatkan manfaat secara ekologi dan ekonomi dari tambaknya," ujarnya.
Untuk kawasan tambak, M4CR mendorong penerapan sistem silvofishery dengan pola empang parit terbuka dan kepadatan tanam 800 batang mangrove per hektare. Pola tersebut mengintegrasikan keberadaan mangrove dengan kegiatan budidaya perikanan dalam satu kawasan sehingga fungsi ekologis dan ekonomi dapat berjalan secara beriringan.
Sistem empang parit terbuka juga memungkinkan sirkulasi air tetap terjaga serta mempertahankan keterhubungan antara kawasan mangrove dan perairan tambak.
Keberadaan mangrove diharapkan turut menjaga keseimbangan ekologis kawasan, meningkatkan kualitas air, menyaring sedimen, serta menyediakan habitat bagi berbagai jenis biota perairan.