NADIKABAR.COM — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), telah melayani 334.763 penerima manfaat atau sekitar 94 persen dari total potensi penerima yang mencapai 355.252 orang.

Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batam Defri Frenaldi mengatakan, penerima manfaat program tersebut mencakup peserta didik, balita, ibu hamil, ibu menyusui, serta guru dan tenaga kependidikan.

“Total penerima manfaat saat ini sebanyak 334.763 orang, atau sekitar 94 persen dari potensi penerima manfaat di Batam,” kata Defri saat dihubungi di Batam, Selasa.

Berdasarkan kelompok penerima, layanan MBG mencakup 18.102 anak TK dan PAUD, 130.677 siswa SD, 59.242 siswa SMP, serta 49.102 siswa SMA dan SMK.

Program ini juga menjangkau 585 penghuni panti asuhan, 3.621 penerima dari pondok pesantren dan sekolah luar biasa (SLB), serta 17.541 guru dan tenaga kependidikan.

“Adapun penerima manfaat kelompok 3B yang terdiri atas 3.411 ibu hamil, 10.551 ibu menyusui, serta 42.141 balita,” katanya.

Untuk mendukung pelayanan tersebut, terdapat 138 SPPG yang telah beroperasi di Batam.

“Total yang aktif itu ada 138 SPPG. Lalu bertambah 10 yang baru diluncurkan serentak secara nasional pada 14 Oktober. 10 ini belum mulai melayani pada saat itu karena kebijakan belajar dari rumah (BDR) di Batam,” katanya.

Ia juga mengatakan bahwa hingga saat ini terdapat delapan SPPG yang dihentikan operasionalnya.

“Satu SPPG di Kecamatan Nongsa dihentikan menyusul kejadian luar biasa (KLB), sedangkan tujuh lainnya dihentikan karena belum memiliki Surat Penetapan Kelompok Penerima Manfaat Sementara (SPKS/SPS) tahap kedua dari Badan Gizi Nasional (BGN),” katanya.

Di sisi lain, pembangunan atau pembukaan SPPG baru saat ini masih dalam masa moratorium atau penghentian sementara sesuai kebijakan BGN untuk penataan dan evaluasi pelaksanaan program MBG.

Terkait pemenuhan standar higiene dan sanitasi, Defri menyebut sebanyak 133 dari 138 SPPG yang beroperasi telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) per 6 Oktober 2026.

Data tersebut merupakan hasil pencocokan data SPPG dengan Dinas Kesehatan Kota Batam.

“Dari total 138 dapur yang memang sudah pernah beroperasional, per 6 Oktober ada 133 yang sudah memiliki SLHS. Sisanya masih dalam proses pendaftaran, terutama pengecekan hasil laboratorium makanan dan air,” ujarnya.

Menurut Defri, kendala yang paling banyak dihadapi SPPG dalam memenuhi persyaratan SLHS berkaitan dengan kualitas air.

“Kondisi pasokan air di Batam yang kurang baik membuat sejumlah dapur perlu menggunakan alat filtrasi tambahan agar kualitas air memenuhi persyaratan pemeriksaan laboratorium,” katanya.

Ia mengatakan pemenuhan persyaratan SLHS menjadi bagian penting dalam memastikan makanan yang disiapkan dan didistribusikan melalui program MBG aman dikonsumsi oleh para penerima manfaat.