Dia menjelaskan, persoalan sampah selama ini tidak hanya berkaitan dengan penumpukan, tetapi juga menimbulkan berbagai dampak lingkungan, mulai dari pencemaran, mikroplastik, emisi gas metana, hingga risiko kebakaran dan bencana lingkungan.

Melalui teknologi waste to energy, sampah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan kini memiliki nilai tambah. PSEL Palembang diproyeksikan menghasilkan listrik yang mampu memenuhi kebutuhan sekitar 12.000-14.000 rumah tangga.

Proyek dengan nilai investasi sekitar 160 juta dolar AS atau hampir Rp3 triliun ini juga diperkirakan menyerap 600 hingga 1.000 tenaga kerja, termasuk pekerja di sektor hulunya.

"Jadi, yang tadinya masalah, sekarang menjadi sesuatu yang positif. Sampah bisa diolah menjadi energi, lingkungan lebih terjaga, dan masyarakat juga mendapatkan manfaat," tuturnya.

Selain meninjau kesiapan infrastruktur, pemerintah juga membahas langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan proyek, khususnya dalam masa transisi regulasi pengembangan PSEL dari Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 menuju Perpres Nomor 109 Tahun 2025.