NADIKABAR.COM — Ketakutan dianggap sebagai orang yang cerewet, mengganggu, atau pembuat masalah dapat membuat seseorang enggan menyampaikan pendapat dan kebutuhan dalam hubungan sosial.
Hal tersebut disampaikan psikoterapis Mark O’Connell, LCSW-R, dalam laman Psychology Today pada Sabtu (31/10). Ia menjelaskan bahwa ketakutan itu kerap membuat seseorang memilih diam demi menjaga hubungan dengan orang lain.
Menurut O’Connell, seseorang sering kali membayangkan berbagai kemungkinan buruk sebelum menyampaikan keberatan. Mereka khawatir membuat orang lain tersinggung, dianggap berlebihan, atau tidak lagi diterima dalam kelompok sosial.
Akibatnya, seseorang dapat mengecilkan kebutuhan pribadinya atau menyampaikan pendapat dengan nada meminta maaf. Padahal, sikap tersebut berisiko membuat persoalan yang sebenarnya perlu dibicarakan justru tidak terselesaikan.
O’Connell mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa ketakutan kehilangan penerimaan sosial, mengalami penolakan, dan tidak mampu menyesuaikan diri dapat mendorong seseorang menghindari konflik.
Ia juga mengacu pada konsep peneliti sosial Brené Brown yang membedakan antara fitting in dan belonging. Fitting in berarti menyesuaikan diri agar diterima oleh kelompok, sedangkan belonging berarti merasa diterima tanpa harus mengubah jati diri.
Untuk menghadapi ketakutan tersebut, O’Connell menyarankan seseorang memahami terlebih dahulu tujuan ketika ingin menyampaikan pendapat. Seseorang perlu membedakan apakah dirinya ingin membangun komunikasi dan saling memahami atau sekadar membuktikan bahwa dirinya benar.
Ia juga menyarankan agar seseorang menyampaikan pengalaman dan kebutuhan pribadi secara terbuka tanpa menganggap semua orang harus memiliki pandangan yang sama.
Menurut O’Connell, pengakuan terhadap pengalaman seseorang tidak harus berarti persetujuan. Dua orang dapat memiliki prioritas dan batasan berbeda, tetapi tetap saling menghargai.
O’Connell turut mengingatkan bahwa tidak semua orang akan menerima pendapat yang disampaikan. Karena itu, seseorang tetap perlu mengevaluasi percakapan dan menetapkan batasan apabila menghadapi penolakan.
Ia menilai keberanian menyampaikan hal yang dianggap penting dapat membuka ruang bagi orang lain untuk melakukan hal serupa dan membangun hubungan yang lebih jujur.
Penerjemah: Farika Nur Khotimah