"APBN harus terus dijaga tetap sehat, kredibel, dan berkelanjutan, agar mampu berfungsi secara optimal sebagai shock absorber, mendukung agenda pembangunan, dan instrumen untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat," tambah ia.

Adapun hingga semester I-2026, pendapatan negara terealisasi sebesar Rp 1.459,4 triliun atau tumbuh 21,3% secara tahunan. Sementara belanja negara mencapai Rp 1.656,0 triliun atau tumbuh 18,2% . Dari sisi pembiayaan, realisasi mencapai Rp 452,0 triliun atau tumbuh 59,4% secara tahunan.

"Capaian kinerja Kementerian Keuangan tahun 2026 yang positif menjadi fondasi dalam penyusunan Rencana Kerja Tahun 2027. Perbaikan pengelolaan APBN akan terus dilakukan melalui reformasi sistem perpajakan dan bea cukai, percepatan belanja dengan fokus pada program yang memberikan multiplier effect bagi pertumbuhan dan kesejahteraan, serta menjaga defisit dan utang dalam batas aman," jelas Purbaya.

Pada periode tersebut, pihaknya telah menyelesaikan 72,43% aduan debottlenecking, mencegah penyelundupan emas batangan sebesar 190,26 kilogram, serta mengimplementasikan kecerdasan artifisial dalam pengawasan under invoicing. Pada sektor pembiayaan, penyaluran pembiayaan Ultra Mikro (UMi) telah mencapai Rp 67,58 triliun.