Berdasarkan perhitungannya, dengan insentif Rp 6 juta per hari, setiap SPPG bisa balik modal sekitar dua tahun. Dengan asumsi modal per SPPG Rp 3,5 miliar dan menyalurkan makanan selama 313 hari per tahun.
"Rp 6 juta per hari, harinya saja diubah dengan dua kali SK, yang terakhir tuh 313. Artinya, hitungannya, Rp 6 juta per hari dikali 313 (hari) itu Rp 1,87 miliar. Akhirnya kalau dia investasi Rp 3,5 miliar mendirikan satu SPPG, dua tahun kan selesai tuh investasinya itu sudah balik," lanjut Agustina.
Dia juga mengatakan lokasi SPPG akan dievaluasi besar-besaran yang berorientasi penerima. Selama ini, orientasi SPPG hanya melihat di satu daerah ada berapa banyak potensi penerima makan gratis, tidak melihat apakah penerima tersebut benar-benar membutuhkan atau tidak.
"Jadi, katakanlah untuk mendirikan SPPG, kan tahu ya ceritanya ya tentang SPPG? Semua siapa yang punya titik, kemudian daftar titik, ah lalu di situlah calon mitranya itu yang mencari calon penerima manfaat di sekitarnya, sehingga tidak ada tuh perhatian terhadap, 'ini daerah stunting bukan sih?', daerah yang apa perlu disasar nggak sih karena ada kondisi tertentu? Nggak. Mereka pokoknya ada SD sekitarnya, ada SMP sekitarnya, mau gitu. Apalagi ketika titik-titik SPPG itu sudah terlalu banyak, malah ada di lapangan yang berebut. Itu yang sekarang sedang kami sisir lagi datanya," papar Agustina.