"Saya tertarik pada momen ketika melihat mulai terasa seperti memahami, meskipun seringkali kita keliru menganggap keduanya identik. Semakin saksama saya mengamati seseorang, semakin saya menyadari bahwa perhatian tidak serta-merta melahirkan pemahaman. Keterbatasan tersebut justru saya biarkan membentuk karya," ujar Rajata Hakim.

Eksplorasi tersebut diperluas melalui rekaman suara sejumlah partisipan yang mendeskripsikan diri secara anonim dan dipasangkan dengan potret mereka.

Pendekatan itu mempertemukan identitas yang ditangkap melalui visual dengan cara seseorang mendefinisikan dirinya sendiri, sekaligus membuka pertanyaan mengenai apakah yang dilihat merupakan sosok sebenarnya atau interpretasi pengamat.

Rajata juga menyamarkan wajah Pangeran Diponegoro dalam salah satu karyanya untuk mempertanyakan identitas yang selama ini dianggap telah pasti.

"Saya sengaja menyamarkan wajah Diponegoro karena saya ingin melihat apa yang terjadi ketika sebuah identitas yang biasanya kita anggap sudah pasti justru dibuat tidak sepenuhnya terlihat. Biar publik menebak sendiri sosok yang menunggang kuda jingkrak berwarna putih itu siapa," kata Rajata Hakim.