"Kondisinya lebih dari sekadar kritis. Tingkat keuntungan saat ini tidak memadai untuk memastikan kami memiliki sumber daya jangka panjang bagi teknologi baru, produk baru, dan lokasi-lokasi kami," kata Blume.

Krisis ini dialami karena persaingan yang semakin ketat, apalagi muncul produk-produk China yang menawarkan harga lebih kompetitif. Blume juga menyebutkan, tarif tinggi yang ditetapkan Amerika Serikat (AS) serta perang di Timur Tengah dan beban regulasi menjadi tantangan utama bagi perusahaan.

Saat ditanya apakah ia memperkirakan situasi akan membaik, Blume menjawab, "Sebaliknya, kita harus berasumsi bahwa risiko akan semakin memburuk di seluruh dunia."