"Jika pola konsumsi tersebut berlangsung berulang, kondisi ini dapat berkontribusi terhadap gangguan profil lemak darah dan meningkatkan risiko gangguan jantung serta metabolik," tambahnya.

Prof Anna menjelaskan, pembatasan konsumsi mentega terutama perlu diperhatikan oleh individu dengan kondisi tertentu, yaitu gangguan kadar lemak darah (dislipidemia), penyakit jantung koroner atau risiko penyakit kardiovaskular tinggi, diabetes yang disertai gangguan lemak darah, obesitas, perlemakan hati (fatty liver), serta riwayat batu empedu.

Meski ada risiko tersebut, margarin dan mentega tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat apabila dikonsumsi dalam jumlah terbatas. Kuncinya, tetap kembali pada prinsip gizi seimbang, yakni memenuhi kebutuhan energi, mengonsumsi protein berkualitas, memperbanyak sayur dan buah, serta membatasi gula, garam, dan lemak.

"Mentega dan margarin bukan makanan yang perlu ditakuti, tetapi juga bukan makanan yang dibolehkan dimakan langsung dalam jumlah besar," ujar Prof Sri Anna.

Secara umum, asupan lemak dianjurkan sekitar 20-30% dari total energi harian, dengan mengutamakan sumber lemak tidak jenuh-bukan dengan mengonsumsi mentega atau margarin secara langsung dalam jumlah besar seperti tren yang beredar di media sosial.