Pertumbuhan tersebut antara lain didorong masuknya investasi asing, kebutuhan lokalisasi data, serta dukungan regulasi seperti PP No. 71/2019.

Namun, REAL masih berada pada tahap awal penjajakan. Berhubung kesepakatan saat ini baru berupa MoU, dampaknya terhadap kinerja perseroan belum dapat dihitung. REAL masih perlu memastikan sejumlah aspek, termasuk nilai transaksi, sumber pendanaan, kapasitas bisnis, hingga kontrak dengan pelanggan.

WIFI tetap menjalankan rencana belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp7 triliun pada 2026.

Perseroan mengandalkan dua layanan utama, yakni Fixed Wireless Access (FWA) melalui Internet Rakyat dan Fiber-to-the-home (FTTH), untuk memperluas jaringan fixed broadband.

Per 1H26, jumlah pelanggan WIFI tercatat sebanyak 2,35 juta. Perseroan menargetkan jumlah tersebut dapat melampaui 3,50 juta pelanggan hingga akhir 2026.

Untuk mendukung ekspansi, WIFI berencana menambah 5.500 radio dengan biaya sekitar perseroan menambah 5,500 radio (unit cost sekitar USD 30,000) dan modem ZTE (sekitar USD 50 per unit).

Selain FWA, sekitar Rp1 triliun dari capex dialokasikan untuk pengembangan FTTH melalui anak usaha Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE). Ekspansi tersebut mencakup sekitar 1,50 juta home pass dan home connect, dengan biaya sekitar Rp750.000 per pelanggan.

Hingga semester I 2026, realisasi capex WIFI baru mencapai sekitar Rp1 triliun. Manajemen menyebut kondisi tersebut lebih berkaitan dengan waktu penyerapan anggaran, sementara rencana belanja modal tetap berjalan sesuai target.

AMRT akan membagikan dividen tunai interim tahun buku 2026. Nilainya ditetapkan sebesar Rp14,50 per saham dengan total pembagian sekitar Rp595,83 miliar.

Pembagian dividen tersebut dilakukan setelah AMRT mencatatkan pertumbuhan kinerja pada semester I 2026. Laba bersih perseroan mencapai Rp2,02 triliun, naik 7,45% dibandingkan Rp1,88 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.