NADIKABAR.COM — Pergerakan IHSG kembali berakhir di zona merah. Pada perdagangan Rabu (7/10), IHSG turun 0,75% ke level 6.146,72.
Sejumlah saham masih mampu menopang pergerakan indeks. BBRI naik 0,96%, TLKM menguat 1,32%, dan SMMA bertambah 1,00%. Di sisi lain, tekanan datang dari BYAN yang turun 6,69%, BBCA melemah 0,82%, serta DSSA terkoreksi 3,00%.
Investor asing mencatatkan net sell Rp828,65 miliar di pasar reguler. Jika dihitung di seluruh pasar, nilai net sell asing mencapai Rp871,36 miliar.
Tekanan juga terlihat dari pergerakan sektoral. Sebanyak 10 dari 11 sektor berakhir melemah. Sektor Energy menjadi yang turun paling dalam dengan koreksi 1,56%. Sementara itu, sektor Technology menjadi satu-satunya sektor yang menguat, meski hanya 0,02%.
Sentimen dari pasar global juga cenderung negatif. Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah, dengan Dow Jones turun 0,66% ke 51.179, S&P 500 terkoreksi 0,22% ke 7.801, dan Nasdaq turun 0,22% ke 27.538.
Di sisi lain, FTSE Russell mempertahankan Indonesia dalam kategori Secondary Emerging Market dan tidak memasukkan Indonesia ke dalam Watch List. FTSE Russell masih memantau efektivitas reformasi terkait integritas pasar modal dan dijadwalkan memberikan pembaruan menjelang review pada Desember 2026.
Pergerakan indeks offshore Indonesia juga masih berada di zona merah. ETF EIDO melemah 0,59%, sedangkan MSCI Indonesia turun 0,20%.
REAL mulai melirik bisnis infrastruktur digital. Melalui anak usaha terkendalinya, Repower Global Sinergitama (RGST), perseroan menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Quanta Tunas Abadi (HIGEN) pada 6 Oktober 2026.
MoU tersebut menjadi tahap awal untuk menjajaki aksi akuisisi di sektor data center dan managed service. Langkah ini sekaligus membuka peluang bagi REAL untuk mengembangkan bisnis di luar sektor properti yang selama ini menjadi fokus utama perseroan.
Bisnis data center dipilih seiring dengan pertumbuhan kebutuhan penyimpanan data di Indonesia. Pasar penyimpanan data center nasional diproyeksikan tumbuh rata-rata 13,80% per tahun, dari sekitar USD 896.30mn pada 2026 menjadi USD 1.95bn pada 2031
Pertumbuhan tersebut antara lain didorong masuknya investasi asing, kebutuhan lokalisasi data, serta dukungan regulasi seperti PP No. 71/2019.
Namun, REAL masih berada pada tahap awal penjajakan. Berhubung kesepakatan saat ini baru berupa MoU, dampaknya terhadap kinerja perseroan belum dapat dihitung. REAL masih perlu memastikan sejumlah aspek, termasuk nilai transaksi, sumber pendanaan, kapasitas bisnis, hingga kontrak dengan pelanggan.
WIFI tetap menjalankan rencana belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp7 triliun pada 2026.
Perseroan mengandalkan dua layanan utama, yakni Fixed Wireless Access (FWA) melalui Internet Rakyat dan Fiber-to-the-home (FTTH), untuk memperluas jaringan fixed broadband.
Per 1H26, jumlah pelanggan WIFI tercatat sebanyak 2,35 juta. Perseroan menargetkan jumlah tersebut dapat melampaui 3,50 juta pelanggan hingga akhir 2026.
Untuk mendukung ekspansi, WIFI berencana menambah 5.500 radio dengan biaya sekitar perseroan menambah 5,500 radio (unit cost sekitar USD 30,000) dan modem ZTE (sekitar USD 50 per unit).
Selain FWA, sekitar Rp1 triliun dari capex dialokasikan untuk pengembangan FTTH melalui anak usaha Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE). Ekspansi tersebut mencakup sekitar 1,50 juta home pass dan home connect, dengan biaya sekitar Rp750.000 per pelanggan.
Hingga semester I 2026, realisasi capex WIFI baru mencapai sekitar Rp1 triliun. Manajemen menyebut kondisi tersebut lebih berkaitan dengan waktu penyerapan anggaran, sementara rencana belanja modal tetap berjalan sesuai target.
AMRT akan membagikan dividen tunai interim tahun buku 2026. Nilainya ditetapkan sebesar Rp14,50 per saham dengan total pembagian sekitar Rp595,83 miliar.
Pembagian dividen tersebut dilakukan setelah AMRT mencatatkan pertumbuhan kinerja pada semester I 2026. Laba bersih perseroan mencapai Rp2,02 triliun, naik 7,45% dibandingkan Rp1,88 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan neto AMRT juga meningkat 6,49% secara tahunan menjadi Rp67,96 triliun pada 1H26.
Dengan besaran tersebut, dividen interim AMRT setara dengan dividend payout ratio 29,50% dari laba bersih semester I 2026.
Pada perdagangan Rabu (7/10), saham AMRT ditutup di level Rp1.225 per saham. Berdasarkan harga tersebut, dividend yield dari dividen interim berada di sekitar 1,18%.
Investor yang ingin mendapatkan dividen tersebut perlu memperhatikan jadwalnya. Cum date di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 13 Oktober 2026, sedangkan pembayaran dividen dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.
SQMI - Buy 104-106 | TP 108-110 | SL 99
MEDC - Buy 1445-1455 | TP 1485-1500 | SL 1380
MEJA - Buy 161-163 | TP 167-169 | SL 154
AMMN - Buy 4490-4520 | TP 4600-4640 | SL 4270
TLKM - Buy 2280-2300 | TP 2340-2370 | SL 2190
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.