Yang prioritas ke depan mungkin saya dengan Bank Sentral harus lebih dekat lagi. Supaya kita bisa sama-sama mendorong ekonomi. Satu mesin akan lebih susah mendorong dibandingkan dengan dua mesin ekonomi. Jadi, ke depan itu akan kita usahakan. Gubernur Bank Sentral yang baru juga bilang seperti itu. Jadi saya pikir dengan sinergi yang lebih baik, harusnya ekonomi akan lebih baik ke depannya.
Yang kedua, sektor riil kita, sektor yang non-government, itu kontribusinya lebih dari 90% ke ekonomi. Termasuk belanja masyarakat segala macam. Itu harus dijaga lebih baik pertumbuhannya ke depan. Kemarin saya kebanyakan fokus ke program pemerintah saja. Sekarang akan dobel, itu dan yang di luar pemerintah akan kita perhatikan supaya ekonomi bisa tumbuh lebih cepat. Itu termasuk mendorong pertumbuhan sektor-sektor manufacturing dan sektor-sektor lain di luar sektor pemerintahan.
Tidak, habis lah duit insentif melulu. Kita akan kasih kebijakan dan ruang bagi mereka untuk tumbuh lebih cepat. Jadi bukan saya kasih duit aja. Saya misalnya ada hambatan bisnis, saya hilangkan hambatannya. Kalau perlu akses ke bunga rendah, kita coba ciptakan sistem di mana ada institusi yang memberi bunga yang lebih rendah dibanding yang ada saat ini.
Karena kalau kita sekarang bersaing langsung bukan dalam negeri aja. Langsung head to head dengan perusahaan di luar negeri sana. Baik di pasar sana maupun di pasar sini. Jadi, kita akan menciptakan suasana yang lebih favorable untuk para pemain domestik. Kemarin saya belum masuk ke sana secara terlalu signifikan. Mungkin ke depan dengan kerja sama dengan bank sentral, kita akan coba ciptakan suasana yang lebih bagus lagi.
Termasuk mendorong sektor riil agar lebih banyak penyerapan tenaga kerja yang saat ini mungkin dirasa masyarakat, 'ah ekonomi tumbuhnya 5,6%, 5,4%, tapi nggak berasa'?
Begini, harusnya kalau hitungan teoritis menurut angka-angka BPS, ada yang namanya coefficient technique tenaga kerja, di mana 1% pertumbuhan ekonomi menciptakan 400 ribu tenaga kerja. Sedangkan usia orang-orang kita yang masih usia kerja setiap tahun itu ada tim redaksi 2,5 juta sampai 3 juta orang. Itu memerlukan pertumbuhan 6,5% sampai 7%.
Setelah krisis, kita tidak pernah tumbuh 7%. Jadi makanya saya setuju dengan Pak Prabowo, saya akan mencoba membantu Pak Prabowo semaksimal mungkin mempercepat pertumbuhan ekonomi ke arah 8%. Kalau tidak 8%, menurut saya tahun depan 6%, tahun berikutnya 7%, sudah cukup bagus. Tujuannya apa? Untuk menciptakan lapangan kerja baru bagi orang-orang yang masuk ke usia kerja. Sehingga orang-orang itu bekerja di lapangan kerja yang formal, bukan informal.
Sekarang banyak informal. Kalau informal kan sarjana yang baru lulus mana mau kerja informal langsung. Dia pas cari yang formal. Begitu tidak dapat, kemana-mana baru ke informal. Tapi itu karena memang ekonomi kita tidak tumbuh lebih cepat dengan struktur yang sekarang.
Kita harus tumbuh di atas 6,5% minimum, baru menyerap orang yang masih ke usia kerja. Belum mengurangi pengangguran yang di sektor informal itu.
Saya bilang tenaga kerja yang di informal biar masuk ke formal, pengangguran bukan itu? Ya, bukan pengangguran, tapi bukan kerja di sektor formal. Itu saja yang menyebabkan kalau di sektor non-formal itu, kesejahteraannya tidak setinggi yang di formal.
Jadi, itu yang harus kita ciptakan ke depan. Pertumbuhan ekonomi lebih cepat yang mendorong pada akhirnya lapangan kerja formal lebih banyak, sehingga kelas menengah kita juga akan tumbuh lagi.
Sekarang sejak krisis 1998, belum pernah kita tumbuh di atas 6,5%. Belum kayaknya. Secara rata-rata juga, di bawah itu. Jadi, kita akan dorong ke atas untuk menciptakan keadaan di mana orang bisa mencari kerja di sektor kerja formal. Jadi, ketika Pak Prabowo bilang 8% jangan diledekin, itu emang betul arahnya. Malah kita kurang.
It's very possible. Kalau Anda lihat kan di zaman Pak SBY kita tumbuh 6% on average ya. Engine-nya cuma satu, bukan pemerintah. Dia tidak bangun infrastruktur di mana-mana 'kan. Tapi private and non-government sector yang tumbuh. Karena kredit tumbuh 22% on average pada waktu itu selama 10 tahun.
Zamannya Pak Jokowi bangun infrastruktur di mana-mana, tapi non-government sector-nya atau private itu tumbuhnya lemah karena pertumbuhan kredit cuma 7% on average. Jadi selama 20 tahun terakhir, engine of growth kita tidak seimbang. Pincang. Yang pertama cuma private, yang di sini cuma government. Sekarang kita gabung dua-duanya. Saya harapkan dengan itu 6%, tambah satu sedikit dari pemerintah.
Harusnya 6,5% itu nggak sulit kalau kita jalankan dua mesin itu. Nanti kalau kita perbaiki iklim investasi dan lain-lain, 7%-8%, itu baru bisa tercipta.
Enggak, kita itu malam-malam kan temenin anak aja. Kasihan dia sendirian, nemenin sebentar, 15 menit, 20 menit, sudah. Hobi apa ya? Tidur. Memang susah tidur sekarang. Jam 2 malam sudah bangun, nggak tidur lagi sampai pagi, wah capek. Tapi (hobi) jalan, kaki, berenang, itu saja.
Ya itu treadmill, jalan, lari sedikit, berenang.
Bicara soal hobi, Bapak 'kan hobinya menciptakan optimisme, ya?
Itu bukan optimisme, itu keharusan, kepaksa. Karena saya Menteri Keuangan, kalau nggak juga nggak peduli saya. Tapi ketika di posisi ini, saya menciptakan kondisi tadi. Utamanya tadi, orang gampang cari kerja. Yang lain hanya instrumen-instrumen untuk menciptakan itu.
Pada dasarnya nanti saya selalu bilang, ayo kita kaya bersama. Dari situ sebetulnya, dari pertumbuhan yang cepat, nanti menciptakan lapangan kerja di situ nanti. Jadi, sekarang walaupun sudah lebih cepat, pertumbuhannya belum ke level yang kita inginkan, atau belum ke level yang Bapak Presiden inginkan.
Ada semacam kritik, bahwa pertumbuhan ekonomi saat ini cenderung disokong sama belanja pemerintah yang begitu jor-joran. Sehingga ada kekhawatiran dari sisi pengelolaan fiskal kita. Pak Purbaya mau bilang apa soal itu?
Wah, itu orangnya nggak jelas ngomongnya.
Begini, kalau fiskal itu ada ukuran-ukuran, acuan-acuannya. Saya belajar fiskal, serius ya. Saya pernah diskusi dengan profesor Jepang, ahli fiskal. Kita pernah kasih masukan fiskal ke Kementerian Keuangan Indonesia pada waktu itu lewat profesor dari Jepang itu yang ahli fiskal tadi. Tapi yang hitung saya sebetulnya waktu itu, sama mereka diskusi juga.
Jadi, kalau untuk melihat fiskal sustainable atau tidak, ada beberapa acuan. Sekarang yang dilihat rasio utang ke PDB yang paling gampang, dan defisitnya ke PDB berapa. Kita di bawah 3%, dan rasio utangnya di bawah 60%. Padahal itu standar yang strict, yang diambil dari Eropa. Dari situ saja kita sudah aman.
Defisit kita tahun ini sampai sekarang masih 0,9%, walaupun angkanya 2,85%. Rasio utang masih sekitar 40%. Bergerak pelan-pelan, karena kemarin ekonomi agak lambat. Tapi ke depan akan kita tekan terus ke bawah untuk rasio utangnya.
Yang penting lagi ini, ketika orang bilang government spending hanya men-drive pertumbuhan ekonomi, kalau Anda lihat dari pertumbuhannya saja, iya. Tapi 'kan kalau share ke pertumbuhan adalah ukuran dia, dikalikan dengan pertumbuhannya, baru kita kontribusinya ya. Share dikali pertumbuhan adalah kontribusinya. Saya hitung, itu dari 5,61% waktu itu, yang saya ingat angkanya itu sekitar 2,9% dari belanja masyarakat, belanja rumah tangga, 1,9% dari investasi, belanja pemerintah hanya 1,3%.
Jadi, kadang-kadang untuk melihat apa yang terjadi sebetulnya, kita harus menghitung sedikit lebih dalam lah. Dari situ akan kelihatan bahwa kita di-drive oleh belanja rumah tangga, habis itu investasi, barulah belanja pemerintah. Jadi, saya nggak terlalu khawatir.
Anda lihat S&P menerbitkan peringkat kita, BBB, Outlook Stable, Lianhe Global Credit Ratings dari China itu lembaga pemeringkat di China yang utama ya, kita dikasih AAA, Outlook Stable, itu rata kanan kalau kata pemain game itu, rata kanan. Jadi, kita mentok di kanan. Terus dia 'kan berkepentingan, misalnya China berkepentingan menilai ekonomi kita seperti apa, bisa bayar apa nggak, karena uang mereka akan bisa berisiko di situ, dia aja menaruh rata kanan yang akan mengambil risiko.
Ini kan yang ribut-ribut yang nggak punya duit. Eh, nggak boleh ngomong gitu ya? Katanya kalau gitu sombong, biar aja lah. Yang ribut-ribut itu, yang nggak betul-betul naruh uangnya di bond kita, jadi mereka nggak percaya yang lain, padahal orang-orang itu akan memasukkan uangnya ditaruh di tempat kita.
Jadi gini, kita jaga betul, jangan sampai fiskal kita tidak berkesinambungan atau dianggap tidak hati-hati. Kalau kita dibanding Vietnam saja, defisitnya masih rendah jauh, kita di bawah 3%. Beberapa negara, sebelumnya juga di atas 3%, kita nggak pernah di atas 3%. Beberapa tahun ini di bawah 3% terus. Dibanding Amerika misalnya.