NADIKABAR.COM — Kalimat itu mungkin terdengar janggal keluar dari mulut seorang Menteri Keuangan. Namun bagi Purbaya Yudhi Sadewa, itu justru bagian dari strategi.
Ketika pertama kali menduduki kursi Menteri Keuangan, ia melihat pesimisme begitu kuat membayangi perekonomian. Maka, alih-alih tampil dengan wajah lesu, Purbaya memilih berbicara dengan penuh keyakinan-meski konsekuensinya ia dicap sombong dan bergaya 'koboi'.
Setahun kemudian, Purbaya menilai pilihannya mulai membuahkan hasil. Ekonomi Indonesia tetap tumbuh di atas 5% di tengah berbagai gejolak global. Namun targetnya jauh lebih tinggi. Ia ingin Indonesia mampu tumbuh 6%, 7%, bahkan menuju 8% demi menciptakan lapangan kerja formal yang lebih banyak dan mengembalikan pertumbuhan kelas menengah.
Bukan hanya soal pertumbuhan, Purbaya juga bicara mengenai pekerjaan rumah di sektor riil, strategi meningkatkan penerimaan tanpa menaikkan tarif pajak, kesinambungan fiskal, hingga pengalihan utang kereta cepat Whoosh ke bawah pengelolaan Kementerian Keuangan.
Dalam wawancara khusus bersama NadiKabar.com bertepatan dengan satu tahun dirinya menjabat Menteri Keuangan, Purbaya membuka banyak hal. Mulai dari strategi di balik gaya komunikasinya yang kontroversial, keyakinannya bahwa ekonomi Indonesia bisa melaju lebih kencang, sampai cerita soal apa yang akan dilakukannya setelah pensiun dari kursi Menteri Keuangan.
Walaupun asap-asap gini banyak, aman ya, Pak?
Alhamdulillah, asapnya mulai reda. Yang penting 'kan ekonominya mulai naik terus ke depan. Itu yang paling baik.
Itu harapan seluruh masyarakat Indonesia, Pak.
Sudah terjadi, harapannya ke depan semakin lebih cepat lagi.
Satu tahun Pak Purbaya menjabat sebagai Menteri Keuangan, kalau boleh refleksi sedikit atau flashback sedikit, momen ketika Bapak dilantik, itu begitu banyak dinamika. Tapi cepat sekali juga membalikkan keadaan saat itu. Di kala orang-orang mungkin pesimistis saat itu, kemudian Pak Purbaya datang dengan segala macam pernyataan dan juga gaya 'koboi'-nya. Tapi kemudian publik berhasil ditarik simpatinya saat itu. Boleh cerita kembali rasa-rasanya ketika momen itu?
Oh, yang pertama saya senang sekali, setahun selamat. Tidak tahu setahun ke depan bagaimana, tapi challenge atau tantangan masih akan ada lagi, saya pikir.
Ekonomi dunia amat dinamis, sekarang juga amat dinamis domestiknya juga. Jadi, ketika saya jadi Menteri Keuangan ya kaget. Saya pikir waktu saya dipanggil ke Hambalang sehari sebelumnya, Pak Presiden Prabowo mungkin memberikan sinyal. Mungkin akan ada (dari) Kementerian Keuangan, posisinya. Tapi 'kan saya biasa begitu, calon abadi, calon terus nggak pernah jadi-jadi. Jadi saya pikir, dia 'main-main', ya sudah saya santai saja pulang.
Tahu-tahu hari Senin dipanggil jam 11.00 WIB, 'kamu ke istana'. Ke istana untuk acara jam 15.00 WIB atau jam 14.00 WIB. Jam 14.00 WIB ke istana. Bawa Peci sama ini, ya. Berarti ada pelantikan, jadi apa? Saya jadi apa? Ya nggak tahu, datang aja.
Saya datang ke sana, baru tahu jadi Menteri Keuangan pada waktu rehearsal terakhir, gladi resik terakhir. Wah, saya Menteri Keuangan nih, seru juga nih saya pikir. Tapi, hari pertama saya salah ngomong di luar 'kan. Orang maki-maki semuanya. Sehari berikutnya saya minta maaf.
Tapi yang penting gini. Waktu itu semuanya amat pesimistis. Jadi, kita mesti mengembalikan optimisme ke ekonomi. Karena di ekonomi tadi yang disebut economic self-fulfilling prophecy. Jadi kalau kita berharap ekonominya bagus, biasanya ekonominya akan bagus, kenapa? Karena semua ekspansi bisnis, orang mau belanja karena nggak takut. Tapi, kalau orang mikir ekonominya akan jelek, ya semuanya, ekonominya akan melambat terus, kenapa? Bisnis pun takut ekspansi, orang juga takut belanja, ekonominya turun ke bawah, terus spiral down ke bawah. Yang pertama kita lakukan waktu itu yaitu menciptakan optimisme ke publik.
Yang pertama, 'kan belum bergerak nih kebijakannya. Ya dengan ngomong, sebagian menganggap itu koboi atau sombong, padahal tidak. Itu memang sengaja didesain untuk menciptakan optimisme di masyarakat.
Untung setelah debat dengan DPR, berapa hari kemudian, masyarakat agak yakin bahwa saya kelihatannya bisa lah. Jadi optimisme mulai dari situ. Habis itu hari berikutnya, dua hari berikutnya saya inject ke uang ke sistem. Itu kebijakan yang real, yang sebelumnya adalah effort untuk menciptakan optimisme di kalangan masyarakat, walaupun korbannya saya dianggap sombong, tapi enggak apa-apa. Kita harus seperti itu untuk menciptakan optimisme.
Kan enggak mungkin saya menciptakan optimisme dengan muka lesu. Ekonominya akan tumbuh 8%, tidak mungkin 'kan. Saya harus mikir gini, nih. Saya bisa, baru orang percaya. Terus diujinya di sana, di DPR.
Habis itu, 2 hari kemudian saya inject uang ke sistem. Itu yang membuat likuiditas ekonominya bertambah dengan signifikan dan siap untuk membiayai pertumbuhan ekonominya. Akibatnya 'kan terutama yang keempat, ekonominya tumbuh tiba-tiba dari di bawah 5% ke 5,39%. Triwulan I-2026 (pertumbuhan ekonominya) 5,61%. Triwulan ke-II kemudian agak melambat sedikit, 5,29%.
Tapi karena saya pikir dengan kebijakan yang lebih sinkron tim redaksi kami dengan Bank Sentral, harusnya ruang untuk pertumbuhan ekonominya lebih cepat semakin terbuka lebar. Jadi, itu hal yang saya sadari adalah ketika saya ngomong sombong, orang banyak yang benci. Tapi enggak apa-apa, itu memang desain untuk mempengaruhi sentimen masyarakat, ekspresi ke publik.
Nah, setelah itu juga kan nggak gampang juga. Saya inject uang ke sistem, udah jalan, keluar lah MSCI. Jederrr, semua jatuh. Terus dibereskan oleh Pak Presiden, Bursa segala macam, OJK segala macam. Aman lagi.
Habis itu keluar lagi Moodys, Fitch. Habis itu S&P. S&P walaupun stabil, tapi 'kan awal Juni kalau nggak salah itu, bocorannya adalah S&P akan men-downgrade bursa saham Indonesia ke frontier level. Padahal S&P nggak pernah ngomong begitu. Jadi pertempuran positif, penciptaan positive sentiment, ditekan ke bawah oleh orang-orang yang ingin kita jelek dengan bocoran, membuat berita-berita negatif.
Walaupun begitu saya harus tetap sombong, harus menciptakan bahwa kita bagus, fondasinya kita bagus, karena kebijakan kita memang pas. Kebijakan Pak Presiden Prabowo pas. Hanya kelihatan kan walaupun ada gejolak perang Iran. Ada harga minyak tinggi, ada macam-macam. Kita tetap stabil, steady, tumbuhnya membaik dan bertahan di atas 5% dengan cukup signifikan. Di triwulan pertama tahun ini 'kan kita masih tumbuh 5,45%. Itu tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Jadi kita lumayan.
Jadi, gampang-gampang susah. Tapi saya yakin orang-orang kita pintar. Asal dikasih ruang untuk tumbuh, kita bisa tumbuh, bisnis dan lain-lain yang mengakibatkan ekonomi akan tumbuh lebih cepat. Ke depan saya yakin kita akan tumbuh lebih cepat lagi. Saya boleh nggak ngomong begitu? Boleh ya? Itu kan rahasia. Jurus rahasia dikeluarkan.
Berarti menurut Bapak, menggunakan pendekatan bahwa membangun kepercayaan publik itu juga bagian dari membangun ekonomi? Bukan cuma dari sisi kebijakan saja?
Bukan. Jadi, kalau ingin melihat dampaknya lebih maksimal, lebih optimal, ya kita harus menciptakan persepsi juga untuk mendukung kebijakan yang kita buat. Jadi, bukan berarti kebijakan yang bagus kalau bagus hasilnya akan jelek. Bukan. Tapi, dengan penciptaan persepsi tadi pencapaiannya akan lebih cepat dari yang kalau cuma kebijakan aja. Jadi, itu yang membuat tadi, tiba-tiba orang suka saya. Karena setelah saya rayu dengan ucapan saya, yang kata orang koboi, itu by design.
Bapak suka dengan sebutan koboi itu?
Menurut saya sama aja. Suka ya suka, nggak apa-apalah. Emangnya mau gue tembak? Emang fun, nggak apa-apa 'kan. Lebih baik kita ngomong apa adanya, tapi kebijakannya baik dan sopan. Untuk kemakmuran masyarakat.
Tapi refleksinya setelah setahun menjabat begitu, ada nggak yang mungkin nggak sesuai ekspektasi ternyata, ya? Sesulit ini ternyata, ya? Ada yang bisa diceritakan soal itu? Atau justru ternyata sebaliknya?
Kalau desainnya sesuai dengan yang saya inginkan waktu itu, dengan Pak Presiden inginkan, harusnya kita sudah tumbuh lebih cepat. Mungkin sekarang udah sekitar kisaran 6%. Cuma ada gejolak global, yang memberikan halangan tambahan buat ekonomi kita. Itu pun harusnya bisa dikendalikan. Cuma ada beberapa lini di ekonomi kita yang belum bekerja dengan baik. Baik di sisi kebijakan maupun di sisi implementasi.
Yang prioritas ke depan mungkin saya dengan Bank Sentral harus lebih dekat lagi. Supaya kita bisa sama-sama mendorong ekonomi. Satu mesin akan lebih susah mendorong dibandingkan dengan dua mesin ekonomi. Jadi, ke depan itu akan kita usahakan. Gubernur Bank Sentral yang baru juga bilang seperti itu. Jadi saya pikir dengan sinergi yang lebih baik, harusnya ekonomi akan lebih baik ke depannya.
Yang kedua, sektor riil kita, sektor yang non-government, itu kontribusinya lebih dari 90% ke ekonomi. Termasuk belanja masyarakat segala macam. Itu harus dijaga lebih baik pertumbuhannya ke depan. Kemarin saya kebanyakan fokus ke program pemerintah saja. Sekarang akan dobel, itu dan yang di luar pemerintah akan kita perhatikan supaya ekonomi bisa tumbuh lebih cepat. Itu termasuk mendorong pertumbuhan sektor-sektor manufacturing dan sektor-sektor lain di luar sektor pemerintahan.
Tidak, habis lah duit insentif melulu. Kita akan kasih kebijakan dan ruang bagi mereka untuk tumbuh lebih cepat. Jadi bukan saya kasih duit aja. Saya misalnya ada hambatan bisnis, saya hilangkan hambatannya. Kalau perlu akses ke bunga rendah, kita coba ciptakan sistem di mana ada institusi yang memberi bunga yang lebih rendah dibanding yang ada saat ini.
Karena kalau kita sekarang bersaing langsung bukan dalam negeri aja. Langsung head to head dengan perusahaan di luar negeri sana. Baik di pasar sana maupun di pasar sini. Jadi, kita akan menciptakan suasana yang lebih favorable untuk para pemain domestik. Kemarin saya belum masuk ke sana secara terlalu signifikan. Mungkin ke depan dengan kerja sama dengan bank sentral, kita akan coba ciptakan suasana yang lebih bagus lagi.
Termasuk mendorong sektor riil agar lebih banyak penyerapan tenaga kerja yang saat ini mungkin dirasa masyarakat, 'ah ekonomi tumbuhnya 5,6%, 5,4%, tapi nggak berasa'?
Begini, harusnya kalau hitungan teoritis menurut angka-angka BPS, ada yang namanya coefficient technique tenaga kerja, di mana 1% pertumbuhan ekonomi menciptakan 400 ribu tenaga kerja. Sedangkan usia orang-orang kita yang masih usia kerja setiap tahun itu ada tim redaksi 2,5 juta sampai 3 juta orang. Itu memerlukan pertumbuhan 6,5% sampai 7%.
Setelah krisis, kita tidak pernah tumbuh 7%. Jadi makanya saya setuju dengan Pak Prabowo, saya akan mencoba membantu Pak Prabowo semaksimal mungkin mempercepat pertumbuhan ekonomi ke arah 8%. Kalau tidak 8%, menurut saya tahun depan 6%, tahun berikutnya 7%, sudah cukup bagus. Tujuannya apa? Untuk menciptakan lapangan kerja baru bagi orang-orang yang masuk ke usia kerja. Sehingga orang-orang itu bekerja di lapangan kerja yang formal, bukan informal.
Sekarang banyak informal. Kalau informal kan sarjana yang baru lulus mana mau kerja informal langsung. Dia pas cari yang formal. Begitu tidak dapat, kemana-mana baru ke informal. Tapi itu karena memang ekonomi kita tidak tumbuh lebih cepat dengan struktur yang sekarang.
Kita harus tumbuh di atas 6,5% minimum, baru menyerap orang yang masih ke usia kerja. Belum mengurangi pengangguran yang di sektor informal itu.
Saya bilang tenaga kerja yang di informal biar masuk ke formal, pengangguran bukan itu? Ya, bukan pengangguran, tapi bukan kerja di sektor formal. Itu saja yang menyebabkan kalau di sektor non-formal itu, kesejahteraannya tidak setinggi yang di formal.
Jadi, itu yang harus kita ciptakan ke depan. Pertumbuhan ekonomi lebih cepat yang mendorong pada akhirnya lapangan kerja formal lebih banyak, sehingga kelas menengah kita juga akan tumbuh lagi.
Sekarang sejak krisis 1998, belum pernah kita tumbuh di atas 6,5%. Belum kayaknya. Secara rata-rata juga, di bawah itu. Jadi, kita akan dorong ke atas untuk menciptakan keadaan di mana orang bisa mencari kerja di sektor kerja formal. Jadi, ketika Pak Prabowo bilang 8% jangan diledekin, itu emang betul arahnya. Malah kita kurang.
It's very possible. Kalau Anda lihat kan di zaman Pak SBY kita tumbuh 6% on average ya. Engine-nya cuma satu, bukan pemerintah. Dia tidak bangun infrastruktur di mana-mana 'kan. Tapi private and non-government sector yang tumbuh. Karena kredit tumbuh 22% on average pada waktu itu selama 10 tahun.
Zamannya Pak Jokowi bangun infrastruktur di mana-mana, tapi non-government sector-nya atau private itu tumbuhnya lemah karena pertumbuhan kredit cuma 7% on average. Jadi selama 20 tahun terakhir, engine of growth kita tidak seimbang. Pincang. Yang pertama cuma private, yang di sini cuma government. Sekarang kita gabung dua-duanya. Saya harapkan dengan itu 6%, tambah satu sedikit dari pemerintah.
Harusnya 6,5% itu nggak sulit kalau kita jalankan dua mesin itu. Nanti kalau kita perbaiki iklim investasi dan lain-lain, 7%-8%, itu baru bisa tercipta.
Enggak, kita itu malam-malam kan temenin anak aja. Kasihan dia sendirian, nemenin sebentar, 15 menit, 20 menit, sudah. Hobi apa ya? Tidur. Memang susah tidur sekarang. Jam 2 malam sudah bangun, nggak tidur lagi sampai pagi, wah capek. Tapi (hobi) jalan, kaki, berenang, itu saja.
Ya itu treadmill, jalan, lari sedikit, berenang.
Bicara soal hobi, Bapak 'kan hobinya menciptakan optimisme, ya?
Itu bukan optimisme, itu keharusan, kepaksa. Karena saya Menteri Keuangan, kalau nggak juga nggak peduli saya. Tapi ketika di posisi ini, saya menciptakan kondisi tadi. Utamanya tadi, orang gampang cari kerja. Yang lain hanya instrumen-instrumen untuk menciptakan itu.
Pada dasarnya nanti saya selalu bilang, ayo kita kaya bersama. Dari situ sebetulnya, dari pertumbuhan yang cepat, nanti menciptakan lapangan kerja di situ nanti. Jadi, sekarang walaupun sudah lebih cepat, pertumbuhannya belum ke level yang kita inginkan, atau belum ke level yang Bapak Presiden inginkan.
Ada semacam kritik, bahwa pertumbuhan ekonomi saat ini cenderung disokong sama belanja pemerintah yang begitu jor-joran. Sehingga ada kekhawatiran dari sisi pengelolaan fiskal kita. Pak Purbaya mau bilang apa soal itu?
Wah, itu orangnya nggak jelas ngomongnya.
Begini, kalau fiskal itu ada ukuran-ukuran, acuan-acuannya. Saya belajar fiskal, serius ya. Saya pernah diskusi dengan profesor Jepang, ahli fiskal. Kita pernah kasih masukan fiskal ke Kementerian Keuangan Indonesia pada waktu itu lewat profesor dari Jepang itu yang ahli fiskal tadi. Tapi yang hitung saya sebetulnya waktu itu, sama mereka diskusi juga.
Jadi, kalau untuk melihat fiskal sustainable atau tidak, ada beberapa acuan. Sekarang yang dilihat rasio utang ke PDB yang paling gampang, dan defisitnya ke PDB berapa. Kita di bawah 3%, dan rasio utangnya di bawah 60%. Padahal itu standar yang strict, yang diambil dari Eropa. Dari situ saja kita sudah aman.
Defisit kita tahun ini sampai sekarang masih 0,9%, walaupun angkanya 2,85%. Rasio utang masih sekitar 40%. Bergerak pelan-pelan, karena kemarin ekonomi agak lambat. Tapi ke depan akan kita tekan terus ke bawah untuk rasio utangnya.
Yang penting lagi ini, ketika orang bilang government spending hanya men-drive pertumbuhan ekonomi, kalau Anda lihat dari pertumbuhannya saja, iya. Tapi 'kan kalau share ke pertumbuhan adalah ukuran dia, dikalikan dengan pertumbuhannya, baru kita kontribusinya ya. Share dikali pertumbuhan adalah kontribusinya. Saya hitung, itu dari 5,61% waktu itu, yang saya ingat angkanya itu sekitar 2,9% dari belanja masyarakat, belanja rumah tangga, 1,9% dari investasi, belanja pemerintah hanya 1,3%.
Jadi, kadang-kadang untuk melihat apa yang terjadi sebetulnya, kita harus menghitung sedikit lebih dalam lah. Dari situ akan kelihatan bahwa kita di-drive oleh belanja rumah tangga, habis itu investasi, barulah belanja pemerintah. Jadi, saya nggak terlalu khawatir.
Anda lihat S&P menerbitkan peringkat kita, BBB, Outlook Stable, Lianhe Global Credit Ratings dari China itu lembaga pemeringkat di China yang utama ya, kita dikasih AAA, Outlook Stable, itu rata kanan kalau kata pemain game itu, rata kanan. Jadi, kita mentok di kanan. Terus dia 'kan berkepentingan, misalnya China berkepentingan menilai ekonomi kita seperti apa, bisa bayar apa nggak, karena uang mereka akan bisa berisiko di situ, dia aja menaruh rata kanan yang akan mengambil risiko.
Ini kan yang ribut-ribut yang nggak punya duit. Eh, nggak boleh ngomong gitu ya? Katanya kalau gitu sombong, biar aja lah. Yang ribut-ribut itu, yang nggak betul-betul naruh uangnya di bond kita, jadi mereka nggak percaya yang lain, padahal orang-orang itu akan memasukkan uangnya ditaruh di tempat kita.
Jadi gini, kita jaga betul, jangan sampai fiskal kita tidak berkesinambungan atau dianggap tidak hati-hati. Kalau kita dibanding Vietnam saja, defisitnya masih rendah jauh, kita di bawah 3%. Beberapa negara, sebelumnya juga di atas 3%, kita nggak pernah di atas 3%. Beberapa tahun ini di bawah 3% terus. Dibanding Amerika misalnya.
Amerika saja rasio utangnya 100% lebih, Jepang 275%, Korea Selatan, Jerman 80%, sudah lewat batas-batas itu. Jadi, dengan standar kondisi fiskal yang paling kuat pun dibanding negara lain, kita masih aman. Jadi, Pak Prabowo amat concern dengan kesinambungan fiskal.
Tahun 2027, defisitnya dipatok di 2,7%, kalau bisa turun, katanya. Tapi di atas kertas kita buat 2,7% untuk penentuan anggaran. Tahun ini waktu saya lapor ke beliau, 'Pak Presiden, anggaran kita 2026 defisitnya di-design 2,85% karena harga minyak tinggi tiba-tiba'. Terus dia tanya, 'Berapa sampai sekarang realisasi?' Itu waktu Juni. 'Baru 0,9% Pak', 'Bisa tidak sampai tahun 0,9% terus?', 'Oh nggak bisa Pak, saya mesti potong anggaran sana-sini'.
Cuma sampai Agustus masih 0,9% ,jadi kita masih cukup kuat kondisi fiskalnya. Saya tidak bisa bilang sampai tahun (defisit) akan terus 0,9% karena masih ada pengeluaran yang bisa bervariasi. Tapi di atas kertas sampai sekarang kita masih cukup aman.
Kita betul-betul memperhatikan kondisi fiskal dan kondisi kemampuan kita membayar utang. Kalau fiscal sustainability sebenarnya diterjemahkan nanti mampu tidak kita bayar utang, atau mau tidak kita bayar utang. Jadi acuannya kita monitor terus dan sampai sekarang masih terjaga dengan baik. Saya harapkan ke depan, kalau pertumbuhan ekonomi cepat, defisit atau utang ke PDB-nya saya turunkan ke bawah.
Iya, begitu pertumbuhannya makin cepat akan makin turun. Karena pada saat yang bersamaan, pajak, biaya cukai dan PNBP akan saya rapikan juga. Pajak dirapikan lagi, bea cukai dirapikan lagi. Pajak itu ada perbaikan yang signifikan. Tahun lalu itu full year kita pertumbuhannya negatif. Sekarang hampir 30% pertumbuhan pajak kita. Jadi, ada perbaikan di sana yang cukup signifikan dan artinya perbaikan yang bisa dilakukan, karena itu belum sempurna. Saya akan perbaiki lagi ke depan.
Tidak, itu tidak terlalu signifikan. Belum memasukkan kondisi yang ideal yang saya perkirakan akan terjadi. Anda pernah dengar ekspor yang membohongi kita itu, under invoicing? Itu kejadian betul di CPO maupun batu bara juga sama.
Jadi mereka ekspor melalui perusahaan trading-nya di Singapura. Di sini ganti nama beberapa kali, terus habis itu baru dikirim ke luar negeri dengan nama yang beda dan perusahaan yang beda. Tapi saya cek di sana harganya dua kali lipat dari di sini.
Jadi, dia ekspor bayar pajaknya separuh, devisa yang balik sini separuh, mungkin juga tidak masuk. Sebagian besar uang nanti tinggal di Singapura atau di luar negeri. Kita dirugikan banyak sekali di situ. Income tax saya turun, devisanya juga tidak masuk. Rupiahnya jadi nggak bisa lari ke mana-mana. Begini-begini saja. Nanti kalau dirapikan itu akan membaik sekali. Ada DSI kan Danantara Sumberdaya Indonesia itu mau memperbaiki itu. Tapi bea cukainya juga akan saya perbaiki lagi.
Ini baru satu, batubara juga sama. Kami sudah pelajari di tempat kami ada yang disebut National Single Window. Di situ saya buat tim sepuluh (orang), boleh nggak ngomong gitu, ya? Boleh lah, nggak apa-apa. (Orangnya) Jago-jago yang sebagian ahli IT, ada yang ahli AI, suruh bikin software atau aplikasi untuk mendeteksi itu semua. Semakin ke depan akan semakin sulit orang-orang kita bermain-main lagi.
Dari ekspor itu bisa dua kali lipat harusnya. Minimal.
Saya nggak pernah naikin (pajak). Jadi yang kemarin katanya penyebabnya segala macam itu bukan perintah saya. Saya akan tarik perintah seperti itu, dan kita tidak akan terbitkan pajak-pajak baru ataupun menaikkan rate pajak. Kan PPN tidak naik lagi. Cukai rokok saja tidak saya naikin.
Berpemanis belum. Nanti kalau Anda sudah makmur, baru saya pajakin. Jadi, kalau tumbuhnya di atas 6% ekonominya, baru kita lihat. Karena kalau lagi seperti sekarang saya pajakin, nggak ada gunanya, ekonominya akan melambat, ya turun secara keseluruhan.
Saya akan hati-hati sekali. Tapi kalau impact-nya negatif ya buat apa saya naikin? 'Kan kayak sekarang, dalam setahun terakhir 'kan nggak ada kenaikan apa-apa 'kan? Tapi pertumbuhannya (penerimaan pajak) bisa hampir 30%. Jadi itu cukup. Perbaikan cara kita mengumpulkan pajak bisa juga menaikkan pendapatan kita secara signifikan.
Ke depan harusnya akan lebih baik lagi. Kalau Anda lihat bea cukai tuh, sekarang 'kan lumayan aktif tuh. Tiap beberapa hari sekali, ada ekspos penyelundupan emas, penyelundupan apa lagi. Ada beberapa lagi di Batam tuh narkoba sekian ton. Jadi, sekarang kita lebih aktif dibanding sebelum-sebelumnya.
Bukan. PNBP 'kan dari itu, dari nanti kalau harga minyak tinggi atau yang lain-lain. Atau ada perubahan royalti pemerintah, segala macam. Tapi bukan urusan saya, itu urusan Menteri ESDM. Di tempat saya adalah memperbaiki cara efisiensi orang-orang pajak dan bea cukai bekerja, sehingga kebocoran bisa ditekan semaksimal mungkin.
Jadinya dialihkan ke Kemenkeu. Nanti SMV-nya kita desain, ada satu atau dua SMV yang meng-handle itu. Dan kalau kita lihat, profitability-nya cukup untuk menutup biaya yang dibayar per tahun dari dua SMV atau satu SMV. Jadi, beban beban pembayaran dari negara itu menjadi amat kecil sekali. Karena utangnya juga sudah direstrukturisasi rupanya, sampai 80 tahun kalau nggak salah. Jadi pembayaran tiap tahunnya masih kita bisa handle.
Sudah. Paling tidak, di laporan saya sudah seperti itu. Jadi, tidak masalah.
Dari SMV ini. Nanti kita pikirkan (pakai APBN). Tapi saya pikir satu SMV itu ditambah dengan profit dari kereta cepat sendiri sudah cukup. Hanya mungkin ada satu tahun yang agak besar, nanti kita lihat. Tapi beberapa tahun kemudian, bukan sekarang. Mungkin 10 tahun dari sekarang itu baru kejadiannya.
Nggak, itu kan SMV yang bayar. Nanti yang satu lagi kereta cepat sendiri. Waktu saya ngomong sama Direktur Utama (Kereta Cepat Jakarta-Bandung)-nya kemarin, kereta cepat itu untungnya, nggak tahu dia betul apa nggak ya, tahun lalu itu hampir Rp 600 miliar. Tahun ini, dia pikir kalau dengan rate yang sekarang, itu bisa Rp 800 miliar.
Artinya kereta cepat juga ada membayar sedikit. Secara operasional untung. Hanya kalau bayar utang sendirian 'kan nggak cukup. Jadi dengan SMV tambah sedikit sudah cukup. Let's say hanya SMI, itu untungnya Rp 3-4 triliun setahun. Kalau saya pakai INA untungnya Rp 6-7 triliun. Kalau saya gabungkan, cukup untuk bayar utang yang kira-kira jatuhnya Rp 1 triliun lebih per tahun.
SMV cukup, cuma SMV-nya mau apa nggak. Tapi kalau nggak mau, saya pecat. Kan saya yang punya. Nggak, itu kan di-design untuk memaksimalkan APBN juga.
Saya lihat sudah 80 tahun di-stretch itu ya, pembayarannya di restrukturisasi. Tapi kan ini belum dikasih ke saya. Paling nggak gambaran awal seperti itu. Jadi, nggak usah takut bahwa itu akan mengganggu APBN.
Dengan data yang saya punya sekarang, seperti itu. Tapi nggak tahu kalau tiba-tiba datanya salah semua. Tapi sekarang data yang saya punya seperti itu, dan kami sudah diskusi dengan KCIC kan ya, dapat data seperti itu. Harusnya sih nggak ada masalah.
Setelah nggak menjabat, saya mau tidur. Cuma begini, ke depan, betul, tahun depan bisa tumbuh 6%, tahun depannya lagi bisa tumbuh 7% mendekati 2028-2029 itu, mendekati desain Pak Prabowo. Itu indikator keberhasilan saya. Mungkin bukan keberhasilan saya, keberhasilan Pak Prabowo ya. Tapi kalau kita bisa menjadi bagian dari itu, saya akan senang sekali. Tapi setelah pensiun mau tidur. Jalan-jalan.
Iya, karena ngomongnya aneh katanya. Pejabat ngomongnya aneh, saya juga nggak ngerti. Soalnya saya nggak ngerasa jadi pejabat, saya ngerasanya masih kayak dulu saja, pengamat. Kalau Menteri Keuangan cuma sekali-sekali saja saya ngerasa jadi Menteri. Kalau pasang ini (pin) saja. Kalau nggak pasang itu, nggak jadi Menteri.
Kadang-kadang, kadang-kadang juga ada yang maki-maki. Cuma saya baca yang kasih masukan. Kadang-kadang, saya kan nggak bisa mengerti keadaan di perekonomian atau di masyarakat tanpa baca itu. Kalau tanya anak buah saya mah bagus-bagus terus. Gimana? Bagus Pak, bagus. Wah, udah nggak otentik gue bilang. Itu kan biasa.
Jadi saya itu, baca itu untuk lihat masukan-masukan. Ada yang bisa saya pakai atau nggak. Kadang-kadang ada yang ngasih masukan itu lho, 'Pak pegawai-pegawai bea cukai di sini begini, begini, begini'. Saya kirim orang ke sana untuk beresin. Jadi, itu masukan aman yang amat berguna.
Jadi, saya lihat komentar mereka yang paling suka ini: banyak yang mendoakan saya. Kemarin saya sakit jadi sembuh karena banyak yang doain. Jadi, saya terima kasih buat teman-teman yang suka ngisi di media sosial, netizen, di TikTok, dan lain-lain. Saya yakin kalau nggak didoain, saya udah K.O lah. Jadi, terima kasih atas doanya.
Berkat doa mereka, apalagi ibu-ibu. Aduh, saya senang banget. Didoain sama ibu-ibu. Saya, banyak yang doain ibu-ibu, karena kalau ketemu di jalan pasti ibu-ibu yang doain. Wah, senang banget. Kalau nggak didoain, pasti saya udah K.O. Saya yakin tuh.
Jadi ini, kita, pemerintah Presiden Prabowo sedang memperbaiki ekonomi. Itu nggak sekali, satu malam selesai. Tapi kita melihat arahnya sudah kelihatan. Semakin baik, semakin baik, semakin baik. Dan ke depan akan semakin baik lagi. Jadi, teman-teman semua, bapak-bapak ibu-ibu yang monitor wawancara ini, jangan takut. Jangan pesimis. Ke depan kita akan jadi negara maju.