Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.
Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!"
Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri?,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."
Pada Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita, Gereja mengajak seluruh umat untuk mengenang segala bentuk dukacita yang dialami Santa Perawan Maria sepanjang hidupnya.
Ada tujuh duka Bunda Maria menurut tradisi Gereja Katolik.
Duka pertama dialaminya saat membawa bayi Yesus ke Bait Allah. Di sana, ada Simeon yang selain memberikan berkat, juga menyampaikan nubuat yang nantinya menjadi nyata dalam hidup Maria.
"Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan - dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri - supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang" (Luk. 2:34-35).
Duka kedua terjadi pada momen pengungsian Yusuf dan Maria ke Mesir karena ancaman pembunuhan terhadap bayi Yesus oleh Herodes (Mat. 2:13). Duka ketiga dialami Maria ketika ia mengira Yesus hilang saat mereka berada di Yerusalem (Luk. 2:43-45)
Duka keempat merupakan momen memilukan, di mana Maria berjumpa dengan Yesus yang memanggul salib menuju Golgota. Di puncak bukit itulah Maria kemudian menyaksikan Yesus wafat dalam penderitaan di kayu salib (Yoh. 19:25), dan inilah duka kelima Maria.
Lalu setelahnya Maria menyaksikan lambung Yesus ditikam dengan tombak (Mat. 27:57-59), dan Yesus akhirnya menghembuskan napas-Nya yang terakhir.
Duka keenam ini bisa kita temukan dalam patung Pieta: Maria memangku jenazah Yesus yang diturunkan dari salib. Duka terakhir atau ketujuh adalah ketika Maria menyaksikan pemakaman Yesus (Yoh.19:40-42).
Dari awal, Maria telah memiliki sikap kepasrahan total. Ia menyerahkan diri dan hidup sepenuhnya kepada kehendak Allah.
Sejak ia mengatakan "ya" kepada malaikat, Maria secara konsisten menerima konsekuensi dari jawabannya itu. Maria tidak hanya mau merasakan kegembiraan dan kehormatan menjadi Bunda Allah.