Terakhir, Fatwa Jihad 2 pada 9 November 1945, yang mendorong masyarakat tidak menyerah dan ramai-ramai bergerak ke Surabaya (gerak jalan) menjelang terjadinya Pertempuran 10 November 1945 yang berlanjut hingga 100 hari gerilya dan Sekutu mundur, hingga terjadi perundingan Meja Bundar yang akhirnya mengakui kemerdekaan RI.

Cerita yang disampaikan Gus Kikin saat kick off HSN 2026 oleh PWNU Jatim di Pesantren Sunan Bejagung, Tuban (11/10/2026), itu juga mengungkap kunci sukses santri dalam perjuangan kemerdekaan, yakni kebersamaan dalam persatuan, musyawarah, saling mengingatkan, saling percaya pada bidang masing-masing, dan saling membantu.

“Kunci sukses itu pun sudah digagas NU sejak awal melalui Qanun Asasi NU pada 1926-1930 dan gagasan MIAI yang merangkul 13 ormas dalam satu federasi/kesatuan pada 21 September 1937, termasuk persatuan dalam perjuangan untuk kemerdekaan. Intinya adalah kebersamaan,” katanya.

Peran santri dalam kemerdekaan, hingga mencetuskan Hari Santri Nasional (HSN) sejak 2015 itu agaknya menegaskan peran penting santri saat itu dalam perjuangan hingga tercapai cita-cita kemerdekaan dan pembangunan itu melalui kebersamaan dengan Resolusi Jihad.

Peran santri dalam konteks kekinian/digital bukan lagi Resolusi Jihad yang bersifat fisik, namun perlu resolusi digital. Plh Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur KH Firjaun Barlaman (Gus Firjaun) menegaskan bahwa santri sangat dibutuhkan di era teknologi digital untuk memadukan teknologi dengan moral.

Baginya, tanpa diminta, santri itu selalu berperan untuk Indonesia. Setelah peran pada kemerdekaan Indonesia, sekarang pun peran santri dibutuhkan, karena teknologi tanpa moral itu akan menjadi bencana. Begitu pesan Gus Firjaun saat kick off Hari Santri Nasional (HSN) 2026 PWNU Jatim di Pesantren Sunan Bejagung, Tuban (11/10/2026).

Setidaknya, ada lima peran kekinian dari santri di era teknologi/digital, yakni santri spiritual, santri intelektual, santri entrepreneur, santri leader, dan santri global. Santri Spiritual itu terkait peran memberi pondasi iman dan akhlak untuk era teknologi digital saat ini, karena teknologi tanpa moral akan menjadi bencana.

Untuk Santri Intelektual itu terkait peran santri dalam berbagai bidang keilmuan, baik kesehatan maupun inovasi dan literasi digital agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen teknologi buatan atau teknologi digital, sedangkan santri entrepreneur itu terkait peran santri dalam membangun usaha secara mandiri tanpa bergantung pada masyarakat.