Qodari menyebut nilai investasi pengembangan K-SIGN seluas 2.000 hektare di Rote Ndao diperkirakan mencapai Rp 2 triliun, mencakup pembangunan tambak garam serta sarana-prasarana pendukung seperti jalan, fasilitas penyimpanan dan pengolahan, pompa, dan infrastruktur lainnya.
Pada tahap awal, KKP menerapkan metode tambak garam terbuka menggunakan geomembran atau high-density polyethylene (HDPE) untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas garam. Beriringan dengan itu, KKP menyiapkan rencana modernisasi teknologi secara bertahap melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemanfaatan energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
"Pengembangan K-SIGN Rote Ndao diharapkan meningkatkan pendapatan petambak melalui peningkatan produktivitas, kualitas, dan nilai tambah garam, sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat setempat dalam rantai usaha garam," ujar dia.