Sarmuji menekankan, peluang pengembangan industri pulp dan kertas masih sangat terbuka melalui perluasan produk hilir. Selain kertas tulis dan cetak, pulp juga diolah menjadi kertas kemasan, karton, kotak karton bergelombang (corrugated box), kantong kertas, label, hingga berbagai jenis tisu.Pengembangan pulp larut (dissolving pulp) bahkan membuka hilirisasi hingga industri tekstil melalui produksi serat rayon atau viscose. Serat tersebut dapat diolah menjadi benang, kain, pakaian jadi, tekstil rumah tangga, hingga produk nonwoven untuk sektor kesehatan dan kebersihan."Industri pulp dan kertas tidak hanya menopang industri kemasan dan percetakan, tetapi juga menjadi bagian penting dari rantai pasok industri tekstil nasional. Ini merupakan peluang besar untuk memperkuat keterkaitan antarindustri sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri," jelas Sarmuji.Ia menambahkan, meningkatnya kebutuhan global terhadap kemasan berbasis kertas, flexible packaging berbasis serat, serta produk berbahan baku terbarukan menjadi momentum bagi industri nasional untuk memperluas pasar.

Selain KDU, Sarmuji mengingatkan industri pulp dan kertas juga menghadapi tantangan ketersediaan bahan penolong serta tuntutan penerapan industri hijau. Untuk kebutuhan garam industri yang digunakan dalam proses chlor-alkali plant (CAP), pemerintah terus berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan guna menjaga keseimbangan antara pemanfaatan produksi domestik dan kebutuhan industri.Untuk pati atau tapioka, Kemenperin memfasilitasi business matching dengan pemasok dalam negeri serta mengoordinasikan usulan kebutuhan impor apabila pasokan domestik tidak mencukupi, terutama pada musim kering."Kami terus mendorong agar industri mengutamakan pemanfaatan bahan baku dalam negeri sepanjang pasokannya tersedia dan memenuhi kebutuhan produksi. Pada saat yang sama, keberlangsungan operasional industri juga harus dijaga agar produktivitas dan daya saing tetap terpelihara," ujar Sarmuji.Sarmuji juga menekankan pentingnya percepatan transformasi industri hijau untuk meningkatkan daya saing sekaligus mendukung target dekarbonisasi nasional."Penerapan kebijakan dekarbonisasi perlu mempertimbangkan kondisi dan karakteristik masing-masing industri agar upaya penurunan emisi dapat berjalan secara efektif sekaligus tetap menjaga daya saing industri nasional," pungkasnya.