NADIKABAR.COM — Industri kertas nasional masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian kebutuhan kertas daur ulang (KDU) sebagai bahan baku. Dari total kebutuhan 7,06 juta ton, sebanyak 4,22 juta ton dipasok dari dalam negeri, sementara 2,84 juta ton atau sekitar 40% berasal dari impor. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mendorong perbaikan sistem pengumpulan kertas bekas di dalam negeri, termasuk melalui optimalisasi bank sampah.

"Kita perlu memperbaiki sistem pengumpulan kertas daur ulang di dalam negeri melalui integrasi data, pendataan pemasok, optimalisasi bank sampah, serta fasilitasi business matching. Langkah ini penting untuk memperkuat rantai pasok industri sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular," tegas Sarmuji dalam sambutannya pada Pembukaan Kongres Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Tahun 2026 melalui keterangan tertulis, dikutip Rabu (4/11/2026).Menurut Sarmuji, kondisi tersebut menunjukkan masih ada ruang untuk meningkatkan pengumpulan dan pengolahan kertas bekas di dalam negeri, sehingga ketergantungan pada bahan baku impor dapat dikurangi secara bertahap.

Di luar tantangan bahan baku, Sarmuji menilai industri pulp dan kertas memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional."Industri pulp dan kertas memiliki peran strategis dalam menopang kinerja ekspor, memenuhi kebutuhan berbagai sektor industri, serta menyerap tenaga kerja. Karena itu, penguatan hilirisasi dan diversifikasi produk harus terus didorong agar sumber daya yang kita miliki dapat menghasilkan nilai tambah semakin besar," ujarnya.Pada 2025, produksi pulp nasional mencapai 11,69 juta ton dari kapasitas terpasang 14,48 juta ton per tahun. Produksi kertas mencapai 18,65 juta ton dari kapasitas terpasang 25,37 juta ton per tahun. Industri ini juga mencatatkan surplus neraca perdagangan sepanjang 2021-2025, dengan nilai ekspor mencapai USD8,2 miliar pada 2025. Pada semester I 2026, ekspor pulp tercatat USD1,68 miliar dan ekspor kertas USD2,35 miliar."Indonesia memiliki posisi yang cukup kuat dalam perdagangan pulp dan kertas dunia. Pada tahun 2025, Indonesia menempati peringkat keempat sebagai eksportir pulp serta peringkat ke-14 sebagai eksportir kertas dan karton dunia. Posisi ini harus terus kita pertahankan dan tingkatkan melalui penguatan daya saing dan pengembangan produk bernilai tambah," kata Sarmuji.Saat ini terdapat 113 perusahaan skala besar di industri pulp dan kertas nasional. Industri ini menyerap sekitar 290 ribu tenaga kerja langsung serta sekitar 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung.