Sementara itu, China sendiri sebetulnya menyesuaikan strategi investasi internasionalnya. Setelah bertahun-tahun memberikan pinjaman luar negeri yang besar kepada negara-negara berkembang, kini China nampaknya mulai memperketat pendekatannya terhadap pembiayaan proyek infrastruktur.

Sebuah laporan oleh Pusat Keuangan Hijau dan Pembangunan di Universitas Fudan menyebutkan China akan melakukan pergeseran investasi ke arah proyek-proyek yang lebih kecil.

Sementara itu, masalah pada proyek metro bawah tanah di Bali senilai US$ 20 miliar juga dapat menjadi ganjalan investasi China. Platform informasi online Bali Discovery pada bulan Agustus disebut melaporkan pemerintah Bali membatalkan rencana proyek tersebut.

China Railway Construction Corporation (CRCC), yang membantu membangun jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung, bermitra dengan perusahaan lokal untuk proyek tersebut.

David Feng, seorang spesialis kereta api independen di China mengatakan batalnya proyek tersebut bisa berdampak pada perencanaan investasi CRCC mendepan di Indonesia. "Jelas hal itu berdampak pada CRRC," katanya.