NADIKABAR.COM — Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyatakan Kementerian Perdagangan (Kemendag) sedang menjajaki peluang kerja sama investasi dengan Mozambik, khususnya dalam pengembangan industri pengolahan singkong untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian negara tersebut.

Kerja sama ini mencakup pemanfaatan teknologi budi daya, peningkatan produktivitas, serta pengembangan fasilitas pengolahan singkong. Upaya tersebut diharapkan dapat membuka peluang investasi sekaligus memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan Mozambik.

"Indonesia dan Mozambik berpeluang besar untuk memperkuat hubungan ekonomi yang saling menguntungkan. Kami ingin mendorong peningkatan perdagangan dua arah, memperluas akses pasar bagi kedua negara, serta membuka peluang investasi yang bernilai tambah bagi perekonomian," ujar Budi dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

Selain menjajaki peluang investasi, Budi menekankan pentingnya mengoptimalkan perjanjian dagang preferensial Indonesia-Mozambik atau Indonesia-Mozambique Preferential Trade Agreement (PTA) untuk memfasilitasi perdagangan dan meningkatkan pemanfaatan preferensi tarif.

Perjanjian yang ditandatangani pada 27 Agustus 2019 tersebut memberikan akses preferensi bagi 242 pos tarif produk Mozambik dan 217 pos tarif produk Indonesia.

Indonesia juga mengusulkan penyelenggaraan pertemuan kedua Joint Committee Meeting Indonesia-Mozambique PTA untuk mengevaluasi implementasi perjanjian sekaligus membahas peluang peningkatan kerja sama menuju kemitraan ekonomi komprehensif atau Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).

Kedua negara turut mendorong penguatan komunikasi antarpemerintah dan keterlibatan pelaku usaha melalui penjajakan kerja sama bisnis (business matching) serta partisipasi dalam pameran perdagangan.

Di pihak lain, Menteri Negara Urusan Perdagangan Republik Mozambik António do Rosário Grispos menyampaikan pentingnya memperkuat hubungan perdagangan dengan Indonesia melalui peningkatan akses pasar dan pemanfaatan perjanjian Indonesia-Mozambique PTA.

António memandang Indonesia sebagai mitra strategis untuk memperluas pemasaran produk unggulan Mozambik ke kawasan ASEAN. Kedua negara juga berpeluang meningkatkan perdagangan melalui diversifikasi komoditas dan penguatan hubungan antarpelaku usaha.

Pada periode Januari-Agustus 2026, total perdagangan Indonesia dan Mozambik tercatat sebesar 110,7 juta dolar Amerika Serikat (AS). Ekspor Indonesia ke Mozambik mencapai 88,9 juta dolar AS, sedangkan impor dari negara tersebut sebesar 21,9 juta dolar AS.

Sementara itu, pada 2025, total perdagangan kedua negara mencapai 162,8 juta dolar AS, terdiri atas ekspor Indonesia sebesar 107,8 juta dolar AS dan impor sebesar 55 juta dolar AS.

Produk utama ekspor Indonesia ke Mozambik meliputi minyak kelapa sawit beserta fraksinya, sabun, asam lemak industri dan produk turunannya, margarin, serta semen. Adapun komoditas impor utama Indonesia dari Mozambik antara lain tembakau, batu bara, mineral industri, dan grafit alami.