NADIKABAR.COM — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengungkapkan adanya ketimpangan yang cukup besar antara total nilai aset yang dikelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan arus kas (cash flow) dan pendapatan yang dihasilkan perusahaan-perusahaan pelat merah tersebut.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan meski nilai aset BUMN tergolong sangat besar, saat ini imbal hasil atau pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan aset tersebut relatif masih sangat minim.

"Aset-aset BUMN ini sangat banyak. Ini mungkin in terms of aset, kita besar, tapi in terms of cash flow-nya, pendapatannya berbanding asetnya masih sangat kecil," ujar Rosan saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (5/10/2026).

Sebagai contoh, menurutnya dari total 1.074 entitas BUMN sebelumnya dilakukan pemangkasan, sekitar 97% setoran dividen perusahaan pelat merah terhadap negara ternyata hanya disumbangkan oleh 15 perusahaan saja. Sementara lebih dari separuh BUMN membukukan kerugian.