NADIKABAR.COM — Pemerintah menyiapkan teknologi kriptografi tahan kuantum untuk mengantisipasi risiko keamanan data seiring pertumbuhan ekonomi digital.

"Untuk melindungi ekonomi digital, pemerintah menyiapkan kriptografi tahan kuantum guna mengantisipasi risiko Harvest Now, Decrypt Later (HNDL), yaitu pencurian data terenkripsi untuk dibuka di masa depan menggunakan komputer kuantum," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Upaya tersebut dilakukan melalui penerapan Post-Quantum Cryptography (PQC) serta pembentukan Gugus Tugas Nasional Penyiapan Migrasi Kriptografi Tahan Kuantum oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

Kriptografi tahan kuantum merupakan metode perlindungan informasi yang dirancang untuk menghadapi potensi kemampuan komputer kuantum dalam memecahkan sistem kriptografi yang digunakan saat ini.

Airlangga mengatakan, prtumbuhan transaksi digital perlu diimbangi dengan keamanan yang mumpuni. Sebab, Bank Indonesia mencatat 12,99 miliar transaksi pembayaran digital pada triwulan III 2025, tumbuh 38,08 persen secara tahunan.

Ia menempatkan ekonomi digital sebagai salah satu penopang untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027.