NADIKABAR.COM — PT Kimia Farma (Persero) Tbk mencatat angka penjualan Rp 7 triliun, dan membukukan laba usaha sebesar Rp 227 miliar. Direktur Utama PT Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, mengatakan laba usaha meningkat 129,31% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (YoY) yakni Rp 99 miliar.
Lebih lanjut, ia menjelaskan EBITDA Kimia Farma juga tumbuh 32,04% YoY menjadi Rp 503 miliar dari sebelumnya Rp 381 miliar pada kuartal III 2025. Perbaikan indikator laba usaha dan EBITDA juga menjadi bagian penting dari upaya Kimia Farma untuk memperkuat fundamental bisnis serta menjaga momentum pemulihan kinerja secara berkelanjutan.
"Kinerja Perseroan sampai dengan Triwulan III 2026 menunjukkan bahwa proses menuju turnaround terus berjalan dengan arah yang positif," kata Djagad dalam keterangan resminya, Senin (2/11/2026).
Selain perbaikan laba usaha dan EBITDA, Perseroan juga berhasil menekan rugi bersih secara signifikan. Dari rugi bersih Rp 234 miliar pada Triwulan III 2025, angka tersebut turun menjadi Rp 13 miliar pada periode yang sama tahun 2026, atau membaik sekitar 94,49%.
"Penurunan rugi bersih tersebut merupakan perkembangan penting dalam perjalanan transformasi Kimia Farma. Fokus kami bukan hanya memperbaiki capaian keuangan dalam jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi bisnis yang lebih sehat, memperkuat disiplin operasional, dan meningkatkan daya saing Perseroan agar mampu tumbuh secara berkelanjutan," ucap Djagad.
"Kami akan terus menjaga momentum ini dengan memperkuat fundamental usaha dan memastikan setiap langkah transformasi memberikan dampak nyata bagi keberlanjutan Perseroan," tambahnya.
Lebih lanjut, memasuki kuartal IV 2026 Persero berencana untuk terus melanjutkan transformasi tata kelola dan penguatan fundamental bisnis sebagai prioritas utama. Pembenahan diarahkan pada penguatan pengendalian internal, pengelolaan risiko, disiplin pengambilan keputusan, serta akuntabilitas untuk mendukung pengelolaan perusahaan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Pada aspek bisnis dan keuangan, Perseroan melanjutkan penguatan pengelolaan modal kerja dan likuiditas, pengendalian biaya, peningkatan produktivitas aset, serta optimalisasi portofolio produk. Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas kinerja operasional, sekaligus memperkuat daya saing serta fondasi pertumbuhan Perseroan.
Sebagai bagian dari proses pembenahan, Perseroan juga terus mengupayakan penyelesaian tantangan historis secara hati-hati dan terukur, dengan berpedoman pada ketentuan yang berlaku serta prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
"Penanganannya dilakukan dengan memperhatikan kepentingan Perseroan dan pemegang saham serta keberlanjutan operasional," tegas Djagad.