Sayangnya, pola klasik ini sangat sulit dilacak pada balita karena keterbatasan komunikasi mereka.
Secara statistik, usus buntu paling sering dialami usia remaja umur belasan tahun. Sementara itu, kasus pada anak-anak, terutama bayi dan balita, terbilang sangat langka, yakni kurang dari 5 persen.
Selain itu, berkat kemajuan teknik operasi bedah saat ini, angka kematian karena usus buntu sangatlah kecil, yakni di bawah 1 persen.
Akan tetapi, dokter menekankan bahwa bahaya utamanya terletak pada komplikasi jangka panjang atau morbiditas.
"Yang penting bukan angka kematian saja, tapi apakah anak itu mengalami komplikasi atau tidak ke depannya. Misalnya, ususnya sampai harus dipotong. Itu kan tidak harus sampai meninggal, tapi kasihan anaknya kalau sampai terlambat ditangani," ucap dr Himawan pada Selasa (1/9/2026).