NADIKABAR.COM — Nilai tukar rupiah berada di level Rp18.084 per dolar AS pada perdagangan Kamis (5/11) pagi. Mata uang Garuda menguat 84 poin atau 0,46 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau bervariasi terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,06 persen, peso Filipina naik 0,52 persen, dan ringgit Malaysia terapresiasi 0,30 persen.

Penguatan juga dialami dolar Singapura sebesar 0,10 persen, yen Jepang 0,27 persen, serta dolar Hong Kong 0,01 persen. Sementara itu, won Korea Selatan melemah 0,12 persen terhadap dolar AS.

Berbeda dengan Asia, mata uang utama negara maju kompak menguat. Euro Eropa naik 0,24 persen, poundsterling Inggris menguat 0,13 persen, dan dolar Australia terapresiasi 0,15 persen. Dolar Kanada juga menguat 0,16 persen, sedangkan franc Swiss naik 0,34 persen.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah berpotensi menguat seiring penurunan tajam harga minyak dunia. Penurunan tersebut didorong harapan berakhirnya perang Amerika Serikat (AS)-Iran setelah Partai Demokrat meraih mayoritas di Kongres dan Senat AS.

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah penurunan tajam pada harga minyak dunia oleh harapan berakhirnya perang AS-Iran setelah Partai Demokrat memenangkan mayoritas di Kongres dan Senat AS," ujar Lukman kepada NadiKabar.com.

Selain perkembangan geopolitik, investor juga mencermati rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis siang.

Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp18.050 hingga Rp18.200 per dolar AS pada perdagangan hari ini.