Sementara faktor eksternal kedua, Tauhid menilai tingginya harga minyak dunia cukup mempengaruhi pelemahan rupiah. Sebab Indonesia masih cukup banyak melakukan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
Masalahnya, tingginya harga minyak membuat Indonesia harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli minyak dari luar negeri. Padahal pembelian ini banyak dilakukan menggunakan dolar yang akhirnya mendorong permintaan mata uang Paman Sam dan menekan rupiah.
"Memang yang menjadi challenging adalah kenaikan harga minyak ya. Harga minyak ini masih di atas US$ 105-106 per barel," jelas Tauhid.
Sementara dari sisi internal, saat ini pasar modal dalam negeri sedang mengalami tekanan imbas ketidakpastian perusahaan status dari lembaga penyedia indeks saham global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Kondisi ini membuat banyak investor global menarik dana dari pasar modal Indonesia.
Alhasil terjadi fenomena arus keluar modal atau capital outflow. Meski menurut Tauhid dampak dari tekanan pasar modal terhadap nilai tukar rupiah ini masih cukup terbatas karena pengumuman rencana perubahan status bursa Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market masih akan disampaikan Juli 2027 mendatang.
"Jadi kemungkinan rupiah di atas 18.200 ya baru nanti, tahun depan ketika benar-benar apakah kita tetap di emerging atau turun ke frontier atau standalone. Baru itu yang saya kira akan jauh lebih mendorong capital outflow kita agak besar," paparnya.