Senada, Pengamat Mata Uang Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi masih terjadi hingga akhir tahun Ini. Utamanya dikarenakan oleh ketidakpastian terkait status pasar modal domestik oleh MSCI, arus keluar modal asing, serta tingginya imbal hasil obligasi AS dan harga minyak.

"Dari eksternal faktor utamanya adalah arah kebijakan suku bunga The Fed, yield UST, DXY, serta harga minyak dunia yang memengaruhi kebutuhan impor Indonesia. Dari domestik tekanan terutama berasal dari arus keluar modal asing dan ketidakpastian terkait MSCI," jelas Lukman.

Atas dasar ini menurutnya rupiah sulit kembali menguat ke level 17.000-an per dolar AS. Lukman berpendapat diperlukan perbaikan sentimen secara signifikan jika ingin mata uang Garuda membaik, terlebih kembalinya kepercayaan investor asing dan meredanya tekanan eksternal.

Sebaliknya, jika arus keluar modal berlanjut dan dolar semakin kuat, rupiah berisiko melemah lebih jauh. Bahkan dalam kondisi terburuk nilai tukar rupiah terhadap dolar berpotensi terus merosot hingga ke level Rp 18.350 per dolar AS di akhir tahun nanti.

"Untuk akhir tahun diperkirakan berkisar 18.350," ujarnya.

"Selama faktor-faktor tersebut belum mereda, ruang penguatan rupiah akan relatif terbatas. Peluang rupiah kembali ke 17.000-an tetap terbuka, namun menurut saya cukup sulit dalam waktu dekat," kata Lukman lagi.