Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi tekanan fiskal akibat kenaikan harga minyak dunia.

Sebagai importir neto minyak, Indonesia berisiko menghadapi kenaikan biaya impor energi serta belanja subsidi dan kompensasi energi.

Ia menyoroti harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) yang telah mencapai US$91,9 per barel hingga akhir September 2026, jauh di atas asumsi APBN sebesar US$70 per barel.

"Setiap kenaikan ICP sebesar US$1 per barel berpotensi memperlebar defisit APBN hingga Rp6,8 triliun," kata Ibrahim dalam keterangannya.