Selain itu, ia mengatakan depresiasi rupiah dan kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) turut menambah tekanan terhadap fiskal. Belanja subsidi dan kompensasi energi hingga 30 September 2026 tercatat mencapai Rp376,8 triliun, naik 54,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

"Apabila merujuk pada sensitivitas APBN 2026 terhadap perubahan asumsi dasar ekonomi makro, kenaikan yield SBN dan depresiasi rupiah adalah dua dari tiga asumsi makro yang sensitif terhadap pelebaran defisit APBN," ungkapnya.

Untuk perdagangan Selasa (27/10), Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp18.130 hingga Rp18.180 per dolar AS. Sepanjang pekan ini, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.250 per dolar AS.